Virus Pengkhianat -
Home / Kolom Opini / Virus Pengkhianat

Virus Pengkhianat

Virus Corona Wuhan

Tanggal 31 desember 2019 di kota Wuhan Provinsi Hubei, sebuah laporan masuk ke kantor WHO di China yaitu 44 kasus pneumonia, awalnya dimulai di pasar seafood di Wuhan lalu tak lama kemudian Pemerintah China mengeluarkan laporan bahwa itu disebabkan oleh virus corona.Diikuti  Thailand,  Jepang, dan  di Korea Selatan virus ini terus menyebar.  Awalnya  hidup  di ular pasar binatang lalu menyerang 4500 manusia, kini per tanggal 2 Februari hampir satu bulan dan 106 tewas, itu bisa lebih, karena masih terjadi epidemi.

Meski media fokus pada layanan pasien yang terjangkit virus, di balik layar masih banyak ilmuwan yang sedang mencari solusi.  Mereka bekerja di perusahaan farmasi, peneliti di kampus dan rumah sakit, dokter, farmasis, ahli biokimia, genetika, farmakogenetika  mulai membuka data obat-obatan dan sejenak gencatan senjata dari perang dunia uji klinis obat asma /ppok, obat onkologi, obat alergi/imunologi dan antiapenuaan untuk fokus ke virus corona.

Adalah Wall Street Journal yang mengulas bahwa perusahaan farmasi Abbvie  sudah mengirim sampel obat ke China, mereka punya  antiretroviral yang digunakan pemerintah RRC, Departemen Kesehatannya sudah  menggunakan obat milik Abbvie yang dijual dengan merek Kaletra (liponavir) dan Aluvia (ritronavir) yaitu obat kelas protease inhibitor yang mencegah virus HIV berkembang biak dua dekade lalu.

Selain itu ada juga  perusahaan  Merck and Co., mereka mengirim tim ilmuwan untuk berangkat ke Wuhan untuk membawa obat mereka yang konon efektif melawan virus corona. Tak dijelaskan obatnya apa. Lalu ada lagi perusahaan Gilead, yang menawarkan pada ilmuwan di Amerika dan China untuk menggunakan injeksi Remdesivir yang diuji di laboratorium  dapat  membunuh corona virus, meski agak riskan diberi pada manusia karena Remdesivir baru diuji pada tikus.

Johnson dan Johnson malah ngebut  mengembangkan vaksin untuk melawan virus corona , katanya vaksin itu kira-kira akan selesai setelah 8-12 bulan. Sebuah harapan atau pemupusan harapan pada masyarakat yang terjangkit virus korona di Wuhan. Sementara GlaxosmithKline  dan  Moderna Inc  sama-sama tertarik membuat vaksin virus korona versi “dadakan” yang kira-kira akan siap dalam tiga bulan mendatang, meski pada prakteknya dibutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ilmuwan dan perusahaan farmasi ini  bersinergi, mereka para ujung tombak dalam ilmu pengetahuan tentang obat-obatan, di Wuhan mereka bisa jadi pahlawan bagi umat manusia. Banyak diantara mereka yang didukung oleh perusahaan farmasi. Tapi dulu dan jarang dibahas, ilmuwan peneliti di bidang obat  dan perusahaan farmasi  punya drama seperti kisah dr.John Buse, siapa dia ? Buse seorang ahli diabetes dengan pengalaman penelitian di kelas obat thiazolidinedione (TZD) yaitu Rezulin (troglitazone), Actos (pioglitazone), Avandia (rosiglitazone).

dr.Buse kerja di  Universitas Carolina di Amerika Serikat. Dia diintimidasi oleh perusahaan Farmasi, adalah oknum di  SmithKline Beecham yang menjuluki dia “pemberontak” karena  dia dianggap menjual obatnya sendiri dari Takeda. Menurut Dr.Buse obat  Avandia-Roziglitazone meskipun memiliki kemampuan mengontrol gula darah tetapi memiliki efek samping gangguan kardiovaskular.

Pimpinan SmithklineBeecham yang merger menjadi GlaxoSmithKline lalu menekan Dr.Buse melalui atasannya, mereka mengancam mengajukan gugatan  secara hukum. Pria itu diminta menandatangani “naskah penarikan”  bahwa dia tidak menemukan risiko gangguan jantung.

Dr.Buse bercerita pada pada teman-temannya. Katanya dulu “Pimpinan GSK menghubungi atasanku, selama satu minggu saya diintimidasi dipaksa menandatangani pernyataan dimana saya tidak boleh berbicara masalah inidi depan publik.” Aksi oknum perusahaan ini jelas membuat Dr.Buse tertekan, padahal dia adalah konsultan untuk Takeda-Lilly produsen Actos dan awalnya, pernah menjadi konsultan untuk SmithKline Beecham yang memproduksi Avandia.

Semuanya berawal di tahun 1999, Dr. Buse mengirim surat ke FDA, dia menulis  toksisitas hati dan masalah keamanan  obat rosiglitazone dan pioglitazone belum ada. Tiga senyawa itu, katanya memiliki interaksi  berbeda dengan reseptor. Di pertemuan ilmiah tentang Endokrin dan American Diabetes Association (ADA) dr.Buse lalu  menjelaskan bahwa  Avandia  meningkatan risiko kardiovaskular.Wajar karena rosiglitazone sejak awal menunjukkan retensi air . Aksi Buse itu membuat para eksekutif SmithKline Beecham bergosip di email tentang Dr. Buse, mereka menjuluki dokter itu “Avandia Renegade /=pengkhianat avandia.” Salah satu email mereka berbunyi: “John Buse dari UNC  berulang kali dan sengaja salah mengartikan data Avandia di mimbar pembicara dan yang terbaru di antaranya adalah ADA.

Ada kasus lain lagi…

Di tahun 2004, Dr. Gurkirpal Singh dari Stanford University memberikan kesaksian di sidang komite bahwa  eksekutif di Merck berusaha mengintimidasi dirinya lewat atasannya. Merck juga mengancam Dr. Singh bahwa mereka akan membuat hidupnya sulit, jika dia bertahan pada pendapatnya dan terus-terusan meminta data efek samping tablet Vioxx. Padahal Dokter  Gurkirpal Singh dari Universitas  Stanford direkrut oleh Merck karena latar belakangnya di bidang Arthritis.

Dokter Singh membuat laporan  bahwa Naproxen memberikan efek samping perdarahan lambung. Lalu dokter ini direkrut Merck untuk menjadi pembicara untuk tablet Vioxx (kandungannya adalah Rofecoxib), sebuah analgetik baru yang dibuat untuk menantang Celecoxib-Celebrex milik pabrikan Pfizer. Itu tahun 1999, ketika Merck melempar Vioxx ke pasaran, dokter Singh menjadi pembicara di 40 seminar dan selama 7 bulan dia dibayar USD 2500 di setiap acara seminar di rumah sakit, kampus/universitas dll..

Setahun kemudian Vioxx mendominasi penjualan analgetik menyaingi Celebrex. Tapi masalah  muncul ketika peneliti Merck menemukan Vioxx meningkatkan kasus serangan jantung, stroke dan kematian  dibanding Naproxen, meski demikian mereka memaksa memberi review positif dan melaporkan ke FDA.

Sebagai ahli ilmiah independen Dr.Singh juga tahu, dia pernah bilang  “Aku khawatir, karena jelas ini  sesuatu yang baru,…. sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Gurkirpal Singh penasaran ingin mengevaluasi penelitian itu untuk dirinya sendiri.  “Saya ingin tahu berapa banyak serangan jantung, berapa kali stroke, berapa banyak kematian yang terjadi di masing-masing kelompok, dan berapa sebenarnya jumlah pasien yang berisiko, dan berapa banyak insiden yang terjadi.” Tapi, meski Singh berulang kali meminta data dari Merck pertanyaannya tak pernah dijawab.  Singh mengatakan selama berbulan-bulan, departemen riset di Merck bilang hasilnya akan datang, mereka tidak pernah memberi data.

Susan Baumgartner, seorang manajer pemasaran Vioxx, menulis email: “19 Juni 2000: Dr. Singh terus mencari efek samping kardiovaskular yang terkait dengan Vioxx …kita harus cari pembicara lain  dan tidak mengambil risiko mendukung pesan negatif yang terus disampaikannya. ”

Jadi, mesin marketing Merck, setelah membayar  honor Singh mereka membatalkan semua seminar ilmiahnya. Dokumen-dokumen yang diperoleh oleh NPR menunjukkan bahwa hampir sepanjang Juni 2000, para eksekutif Merck berunding tentang cara mengendalikan konsultan skeptis mereka. Setidaknya 23 eksekutif lokal, regional dan nasional ikut serta dalam diskusi. Mereka takut dr.Singh menguliti mereka hidup-hidup.   Untungnya  Singh dihormati di FDA. Dia juga memiliki koneksi dengan pembeli institusional besar yang penting bagi penjualan Vioxx hingga Akhirnya Vioxx  ditarik dari pasar.

Intimidasi, tekanan Merck terhadap Dr. Singh ketika ia berusaha melindungi Vioxx sama saja dengan sikap GSK terhadap Dr. Buse . Perilaku ini dulu mungkin lazim di industri farmasi, andai  pimpinan GSK dan Merck saat itu mau mendengar  dr.Buse  dan dr. Singh  83.000 kasus  plus 34.000 lagi kasus kematian karena serangan jantung bisa dihindari. Julukan pengkhianat  diberikan kepada dr.Buse dan dr.Singh, hingga mereka berdua jadi sasaran tembak eksekutif yang beretika buruk di Merck dan GSK. Sayang, kemenangan datang terlambat korban berjatuhan.

Sebuah pemberontakan yang juga terjadi pada virus corona, yang biasanya nempel di tubuh ular, mendadak virus itu pindah ke tubuh manusia dan disebarkan ke penduduk Wuhan di Hubei. Si virus mungkin bosan hidup di ular lalu meloncat jadi pengkhianat,  dari satu manusia ke manusia yang lain. Wallahualam.

Sumber :
1. COMMITTEE STAFF REPORT TO THE CHAIRMAN AND RANKING MEMBER
COMMITTEE ON FINANCE UNITED STATES SENATE, November 2007, The Intimidation of Dr. John Buse
and the Diabetes Drug Avandia
2. Tempo.co ” Wabah Meluas, GlaxosmithKline kembangkan vaksin virus corona”
3. https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=4696609
4. Who.Int.

 

 87 total views,  1 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link