Refleksi : Belajar dari Pengalaman (1) -
Home / Kolom Opini / Refleksi : Belajar dari Pengalaman (1)

Refleksi : Belajar dari Pengalaman (1)

Sebagai penulis blog ini izinkanlah saya curhat, semoga terhibur dan terinspirasi ya hehe. Baiklah, mari kita mulai.

Sejak akhir tahun 2014-2015 saya berhenti dari PNS, usia saya 40 tahun, itu  karena istri saya hamil anak kami yang ke-5 sementara dia sedang kuliah pendidikan dokter spesialis paru di-UI Jakarta. Saat itu saya tinggal dan kerja di Surabaya dengan anak pertama-ketiga, satu lagi anak saya ada di Makassar. Betapa ribetnya saya kalau punya tiga dapur, ya tiga dapur!  belum lagi si kecil Zaki lahir siapa yang akan menjaga ketika istri kuliah, dia harus diberi ASI ?

Tiga putra saya di Surabaya dibantu jaga kakek dan neneknya,  di Makassar ada juga mertua saya yang jaga si  Naufal. Terus Istri dan Zaki di Jakarta gimana ? Semuan pihak sudah berkorban untuk membantu, apalagi istri harus selesai sesuai janji saya ketika interview di depan Dekan PPDS-Paru Prof Wiwin .

Siapa yang berkorban lagi ?  tanya teman-teman, ustadz, sahabat, keluarga ada yang jawab A dan B, hingga akhirnya saya ditelepon Bang Ratno, sudahlah Solat Istikarah, lapor sama Pemilik Dunia ini, jadi setelah Solat Istikarah dan itu butuh proses juga hingga  saya putuskan saya berhenti kerja.

Tapi kabar buruknya, saya  dapat surat pemecatan tidak hormat dari kantor, wajar sih, karena  saya praktis meninggalkan kantor sejak istri saya persiapan cuti melahirkan, mengurus dokumen Serkom dan STRA apoteker karena  selama jadi PNS saya tidak pernah merangkap kerja di Apotek. Saat itu saya harus menemani istri selama cuti  melahirkan di Palopo, dan akhirnya kami membawa Zaki yang usianya 2 bulan ke Jakarta.

Nah, sejak di Jakarta, saya kos di Utan Kayu, dengan Zaki dan istri,  disana saya belajar hidup irit sambil saya jagain si Zaki yang usianya 2 bulan, pagi-pagi sebelum berangkat istri saya memberi ASI buat Zaki, lalu tugas beralih ke saya  mandikan , beri susu, kasih makan, setrika dan cuci baju. Sampai sore atau malam  istri saya pulang lalu memberi ASI lagi untuk Zaki.

Saya juga bisa minta uang  dari istri yang kebetulan punya penghasilan  untuk kebutuhan saya sehari-hari. Kebutuhan saya  ya sedekah ke masjid, transport ke pengajian untuk wirid, dan beberapa bulan sekali  itikaf . Karena saya bukan perokok dan saya biasa makan dan minum secukupnya saja jadi menurut saya hidup saya cukup sederhana.  Kalau untuk hiburan dan menikmati hidup,  saya beli kopi arabika asli, duduk depan laptop dan mengetik. Alhamdulillah, disyukuri saja. Kadang kalau ada kesempatan saat istri tidak jaga dan ada diskon grab atau gojek saya berkunjung ke Gramedia Matraman, ke Perpustakaan Nasional untuk baca buku, atau nongkrong di Kota Tua di Jakarta Utara sambil ikut-ikutan merasakan naik Kereta Komuter sok-sokan ngerasa jadi pekerja di Jakarta padahal saya pengangguran kan.

Saya punya banyak waktu luang ketika Zaki tidur (setelah minum susu dan makan) , kalau sudah begitu saya mulai nulis artikel di blog gratisan dan mulai agak serius nulis di wattpad. Saya ingat dulu sejak SMA, sebelum kuliah, saya sering curhat di depan komputer dan menulis sampai berjam-jam untuk menghilangkan penat. Sekarang terulang lagi, tapi ada kisah ketika saya pulang ke Surabaya kakak saya Kak Utti Setiawati  maksa ngirim naskah ke penerbit mayor G*******, itu awal tahun 2015 dan setelah setahun nulis novel , saya belum juga di balas. Sedih sih, tapi nasehat kakak saya  “terus nulis jangan menyerah.”  Akhirnya tiap hari saya merasakan beban artikel, novel dan riset yang mulai bertumpuk. Meski kewajiban membaca dan menulis itu mulai terasa berat tapi ada rasa nyaman, apalagi ada teman yang mulai kasih ide dan semangat, curhat tentang keluarga lah, kasih pengalaman lucu, tragis, pokoknya  menarik.

Masalahnya satu, saya belum juga mendapat panggilan dari penerbit mayor dan saya tetap sibuk nulis, belajar dan nulis lagi. Panik ? jelas panik,  antara tahun 2015-2019 /4 tahun tidak punya penghasilan, istri saya wajar dong ngomel. Saya diam saja, lagipula  toh saya sudah janji  tidak akan  mengganggu urusan istri karena saya takut nanti berpengaruh dalam pelayanan ke pasien dan kerjaan,  nasehat saya ke istri cukup masalah agama saja yang lainnya ? hmm, praktis nggak ada, saya emang gak  nuntut banyak dari istri selain dia bertanggug-jawab pada sumpahnya sebagai dokter.

Beberapa bulan kemudian di media sosial saya berkenalan dengan Mbak Desi Sulistya, beliau membaca blog saya. Ternyata dia kerja di BUMN, Studio PFN, Perusahaan Film Negara, yang setelah saya jelaskan masalah saya dia ternyata ikut panik, suer panik ! Dia mungkin bisa membayangkan saya punya anak 5, istri kuliah dan nggak punya penghasilan apa-apa. Karena pengalaman Mbak Desi ini banyak banget tentang media jadi saya dinasehatin dan diperintahkan untuk  membuat blog profesional, menulis lebih rutin, membuat deadline, rencana kerja, membuat novel, dan menulis, menulis. Saya sih oke-oke saja, karena emang selama ini saya menulis kan ? masalahnya saya belum tahu masalah blog, tapi Mbak Desy ini helpful banget dan siap membantu, dia mengenalkan saya ke Mas Danang di kantor PFN yang siap menyelesaikan masalah teknis, singkatnya saya mulai nulis dan ngeblog.

Lanjut nggak ya ? ditunggu aja komentarnya ya.

 

 193 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link