Pesan Apoteker Zaman Now -
Home / NGOCEH / Pesan Apoteker Zaman Now

Pesan Apoteker Zaman Now

Viva Farmasis,
Entah apa yang dipikirkan Pak Tri, almarhum dosen saya ketika menyaksikan saya mengeringkan botol-botol tabung reaksi menggunakan Hair Dryer. Mungkin dia sebal -seperti saya yang segera ingin pulang- kita berdua harus terjebak di sebuah ruangan di waktu yang sama dengan karakter berbeda. Semuanya terasa memuakkan : bau ekstrak tanaman, pelarut cairan dan sabun cuci yang membumbung di langit-langit laboratorium. Hanya satu hal yang membuat kami berdua terpana di siang hari itu, ya sebuah Hair Dryer, pengering rambut warna merah tua yang kini tersimpan di kamar saya di rumah. Sepertinya alat itu tersenyum pada saya karena ia selalu berada di tempat yang benar. Hair dryer yang ribut ketika dinyalakan, meniupkan angin hangat atau dingin benda yang ikut serta membantu saya lulus, membantu saya tersenyum dan menahan diri ketika suasana hati saya sedang goyah. Bahkan ia membantu saya membuka memori tahun-tahun yang dulu berlalu dan terpatri di kepala  saya. Salam Sejawat.

Rekan-rekan yang saya hormati, tahun politik 2019 sudah didepan mata, tahun lalu kita menemukan istilah baru  kids zaman now, generasi micin, tiang listrik, papa, pertarungan sengit antara dua cagub DKI Jakarta. Hal itu viral di linimasa media sosial kita, dan akan  semakin deras beberapa bulan ke depan. Dengan rendah hati saya menghimbau kepada rekan apoteker, aktivis media sosial untuk lebih teliti membaca, menyebarkan dan menyeleksi informasi yang bisa berujung pada hoaks. Hoaks ini adalah masalah kita bersama, tidak hanya orang, institusi, kelompok hingga pemerintah sangat dirugikan. Kenapa hal ini sulit dicegah ? Karena kini hoaks adalah industri. Milyaran rupiah berputar di pusaran para penyebar hoaks, hal itu seharusnya membuka mata kita bahwa kelompok saracen hanyalah sebuah puncak gunung es.

Selain hal tersebut saya ingin rekan-rekan memahami bahwa dalam politik ada istilah golongan kiri dan kanan. Istilah ini timbul ketika kubu yang selalu berbeda pandangan. Istilah ini berawal dari Majelis Nasional Perancis pada tahun 1789, wakil yang pro perubahan radikal yang menuntut kesetaraan berada di sebelah kiri, sedangkan wakil yang pro status quo berada di sebelah kanan. Sedangkan deputi Perancis yang mendukung perubahan moderat berada di tengah. Dalam ilmu politik kekuatan kiri adalah kekuatan yang bersumber dari rakyat yang termarjinalkan, seperti buruh, tani. Sebaliknya kanan adalah sebutan para tuan tanah, bangsawan, keluarga raja. Mereka selalu melawan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Gerakan kiri dan kanan ini selalu terjadi secara dinamis pada saat suksesi, gerakan itulah yang dulu tidak pernah terjadi kini menjadi viral di linimasa media sosial kita. Pada dasarnya gerakan politik adalah perebutan kekuasaan, semua kubu akan mengeluarkan energi untuk meraih opini di masyarakat. Sayangnya kita belum seluruhnya bijak dan mampu mengendalikan emosi ketika menggunakan media sosial.  Itu wajar dan lumrah terjadi, namun ini harus dihentikan segera. Sekarang juga!

Rekan-rekan ayo kita praktikkan etika profesi kita secara paripurna, saya yakin semua apoteker masih punya hati nurani.

Jangan sampai  karena berbeda pandangan politik menyebabkan kita menghapus nilai persahabatan yang dulu dibangun dengan tetes darah dan keringat. Ingatlah hubungan yang dibentuk diatas penderitaan pengering rambut dan bercak-bercak warna cokelat pada jas praktikum kita yang terpercik perak nitrat. Ingatlah kombinasi bau eter, anilin dan kloroform yang membuat kita berhalusinasi bahwa kelak pangeran kaya akan menjemput kita – setelah sumpah apoteker-  naik kuda warna warna hitam dan membawa segenggam berlian. Hal itu membuat kita tersenyum ketika kenyataanya kita akhirnya harus duduk di kursi bus Sumber Bencana menyaksikan persaingan antara bus Eka dan Mira yaitu bus-bus yang terkenal ugal-ugalan di jalur selatan. Atau halusinasi itu kini jadi kenyataan bahwa kita harus menikmati takdir menyaksikan bayangan wajah kita di dinding kereta komuter yang lewat di depan kita, diiringi suara keras “awas jaur tiga, awas jalur tiga priiiittttt…lalu mendadak terdengar suara  pintu akan ditutup.”  

Sejawat, anda yang duduk sambil memegang telepon seluler dan menunggu dan menaiki bus transjakarta yang berjalan lambat diantara mobil pribadi yang terkena macet. Untuk kita yang harus dijemput dan diantar  oleh pasangan berbeda setiap pagi yang gelap dan sore yang kelabu. Hal itu selalu dimulai ketika sebuah pesan singkat masuk ke telepon kita yang berbunyi “dijemput dimana bu ?…..ok,….meluncur….otw…. gps saya eror….atau  batalkan saja.” Tapi itu bukan pesan dari Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan atau George Clooney, tapi itu pesan dari pengemudi jasa ojek dan taksi daring yang kini menemani kita. Aplikasi yang mencetak kita menjadi seperti robot-robot yang di program untuk melakukan pekerjaan tanpa rasa, membentuk percakapan semu, ditemani oleh bau keringat pengemudi yang mengingatkan kita pada asam asetat.Ya tapi kita tidak pernah mencium keringat kita sendiri selama kuliah, karena itu termasuk perbuatan sia-sia dibanding menuliskan laporan praktikum di sepertiga malam. Ingatkah kita ketika premenstrual syndrome adalah penyakit absurd yang bisa hilang seketika ketika besok kita harus membawa tas dan koper berangkat ke Bandara Internasional Fakultas Farmasi.

Ingatlah banyak diantara kita yang begadang, berbuat melewati batas untuk menghapalkan nama-nama tanaman yang kini tidak lebih membentuk persahabatan senilai  lima ribu rupiah, itu-lah persahabatan kita dengan terong, kentang, cabai, merica, yang digantung si abang motor penjual sayur di pagi hari. Pesan ini juga untuk sejawat apoteker yang mendadak menjadi ibu, dan saat ini pukul sebelas siang belum mandi sementara anak-anaknya yang masih kecil sudah mandi dan terlelap diranjang. Dia tersenyum membaca tulisan saya ini dan tak sadar bahwa daster yang dikenakan telah dikencingi anaknya tadi dan kini bau pesing.

Untuk anda, sejawat yang kini menjadi tulang punggung keluarga, menjual makanan, roti, kue, minuman, mengajar dan semua yang membuat anda kini sedang membaca tulisan ini ingatlah,  berapa banyak diantara kita yang masih gagal move on, sayangnya itu berlangsung selama puluhan tahun melewati zaman tandun, zaman old dan zaman now :  diiringi lirik lagu-lagu yang di bawakan Ismail Marzuki, Sundari Sukoco, Meriam Belina, Julio Iglesias, TLC, Kahitna, Gigi,  Peter Pan dan kini Raisa. Semua berlalu baik-baik saja, ketika dulu kita menulis surat cinta di kertas, hingga di cetak menggunakan mesin cetak, dan kini pernyataan cinta bisa disampaikan lewat meme. Hingga akhirnya kini anak-anak kita mungkin lebih mengenal tablet sebagai gawai dibanding sebagai obat. Dan diantara kita ada mereka benar-benar tenggelam dalam kepedihan yang bernama gagal move on.

Berapa banyak diantara kita yang  mengejar cita-cita menjadi doktor, profesor, kuliah pasca sarjana, tapi melupakan bahwa pada akhirnya persahabatan itu lebih memberi rasa bahagia dibanding gelar yang tinggi lebih, yaitu cenderung memberi rasa sombong. Semuanya lewat begitu saja, banyak diantara kita yang mendadak punya uang dari memeras keringat dan maaf, sperma suami. Lalu mendadak pamer punya mobil,punya rumah,  lalu pergi ke salon, membeli alas bedak kuning muda yang jelas-jelas kontras dengan punggung tangan yang warna cokelat tua. Lalu membeli tas bermerk Hermes, Gucci, Luis Vuitton, sepatu Bally, Prada, Debenhams, lalu jam tangan Tag Hauer, Baume Mercier, Gucci, Dolce Gabbana dan memposting fotonya menggunakan barang-barang tersebut yang bertuliskan “Bersyukur itu indah Bun,….Maasyaallah Indahnya dunia ini ketika bersamamu atau Ahirnya keluar negeri lagi.”  Padahal di media sosial pengguna yang waras tertawa terbahak-bahak karena pada hakikatnya anda adalah orang kaya baru. Orang kaya aslinya tidak pernah ingin over postingan harta di media sosial.

Sejawat, diantara kita ada yang mendadak berpakaian seragam, lalu sikapnya berubah ketus, tidak manusiawi dan berbicara hanya dari sudut pandangnya saja. Lalu mengejar jabatan dan harta dengan menghalalkan segala cara. Padahal sebagian ulama dan pebisnis tahu bahwa kadang jabatan tidak pernah linier dengan harta, kecuali anda korup.

Berapa banyak diantara kita yang kini janda, duda, semua berlalu dan mengisi jejak kesedihan dan kepedihan. Mereka membutuhkan kita dan kasih sayang sesama kita.  Ada juga diantara kita yang dulu cita-citanya amat mulia, lulus dan membahagiakan orang tua. Tapi ketika lulus dia serakah dan makan harta yang tidak halal. Berapa banyak diantara kita yang berbeda warna kulit merasa tinggi hati, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa etnisnya yang layak memegang roda perekonomian, pemerintahan atau sosial dan politik. Dan …..

Berapa banyak diantara kita yang kini belum bekerja, harus menanggung beban gelar apoteker, menjadi pembantu  bagi kedua orang tua, dan hari demi hari awan lembayung bertiup, angin laut dan darat berlalu ;  membuat wajah kita seperti di tempeleng oleh waktu.

Semua itu,….sudahlah.

Kita semua Apoteker, semua rekan sejawat, kawan baik. Sahabatku ; Ingatlah : tidak ada yang sempurna di dunia ini. Manusia, hewan, tanaman dan alam semesta dibuat oleh-Nya dengan penuh ketelitian agar saling melengkapi. Dialah Maha Sempurna, masa lalu kita biarlah berlalu, yang buruk kita jadikan cermin, yang baik kita kekalkan. Jika akidah, visi, misi  kita berbeda maka tahanlah untuk tidak menuliskan tulisan yang menyinggung perasaan rekan lain karena itu sangat menyakitkan bagi mereka. Etika kita menyebutkan bahwa janganlah kita memperlalukan rekan kita sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika anda seorang atasan, hargailah pendapat bawahan anda. Jangan menindas dan membuatnya terhina, ingatlah bahwa doa orang yang terdzalimi itu sangat mudah dikabulkan. Jika anda seorang bawahan pintar-pintarlah mengambil hati atasan meski itu sulit tapi tak usah banyak komentar, lakukan saja. Kalaupun ada yang tidak cocok dengan kondisi di sekitar kita, terima dengan lapang dada atau tinggalkan saja, apakah itu tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, kampus, sekolah dll. Ingatlah dunia ini luas dan masih banyak tempat lain untuk kita berkarya.

Kita sebagai apoteker harus menjadi panasea bagi tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena pada hakikatnya nanti toh setiap insan bertanggung jawab kepada Tuhan. Saya menghimbau kepada rekan-rekan, badai politik itu pasti berlalu jika anda sampai terkena hujan dan turut serta mencaci-maki atau berkomentar, maka nilai anda sangat murah bahkan tak ada nilainya. Sebaiknya anda diam saja, ingat seorang ilmuwan tidak bisa memutuskan apa yang benar dan salah hanya berdasarkan sesuatu yang terjadi di media sosial. Memeriksa kebenaran fakta itu mahal harganya, baca media yang terpercaya –atau tidak usah sama sekali- jangan komentar berlebihan. Sampaikan pendapat anda dengan santun tanpa memaksakan kehendak anda. Masalah kebenaran anda, itu sudah benar Al-Haq. Tidak usah di perdebatkan lagi dan hanya akan membuang-buang energi anda. Sebaiknya kita lebih meningkatkan ibadah kita kepada Tuhan YME dan semoga dijauhkan dari perbuatan yang tercela termasuk diantaranya mencaci-maki, menghina, memutus persahabatan bahkan sampai menyebarkan hoaks.

Jadilah teladan itu nasihat Guru saya Yang Mulia, disamping itu beliau menceritakan kisah indah ini untuk saya. Suatu ketika Panglima Khalid Ibn Walid r.a seorang yang belum pernah kalah puluhan perang, satu langkah lagi beliau memenangkan pertempuran dan peperangan selesai, mendadak beliau di turunkan dari jabatan panglima. Beliau disuruh pulang dan menjaga istal kuda milik khalifah Umar r.a , apakah beliau memberontak dan menjelek-jelekkan pemimpinnya? Tidak, tapi beliau berkata kurang lebih seperti ini. “Ketika aku menjadi panglima aku mengabdi kepada Tuhan, kini aku menjadi penjaga kuda milik Khalifah, maka akupun tetap mengabdi kepada Tuhan.”  Sangat menyentuh ketika saya yang penuh kekurangan ini masih memiliki setetes rasa angkuh di hadapan-Nya.

Sekian, salam Apoteker,

205 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link