Opini : Selfie Itu Kadang Kronis -
Home / KESGA / Opini : Selfie Itu Kadang Kronis

Opini : Selfie Itu Kadang Kronis

Hmm, jadi pagi-pagi setelah ngopi dicampur susu, saat yang paling enak buat saya adalah mengetik dan menuangkan ide-ide sederhana setelah membalik-balik linimasa media sosial di telepon seluler saya. Awalnya saya tidak sengaja memeriksa beberapa status diantara kita ada, status awal yang  takut-takut mencoba membagikan foto, pakaian, kegiatan atau tas baru di media sosial, pekerjaan, kegiatan sehari-hari, foto-foto dan lainnya. Oh ya saya yakin rasanya ternyata nikmat, ya! Nikmat karena hal itu menyebabkan banjir mediator kimia di otak yang memberikan rasa euphoria dan itu membuat kita merasa relaks dan perlahan-lahan itu semua menjadi motivasi untuk mengejar segala sesuatu yang akhirnya secara tak sadar menjerumuskan kita kepada penyakit pamer…hmm ya pamer. Terus terang saya sudah mencoba sejak tahun 2009 membagikan informasi ilmiah, informasi kesehatan, tulisan yang lucu, artikel populer, foto tempat bersejarah, kegiatan sosial, atau semuanya yang menurut saya akan bermanfaat bagi pembaca. Hal ini mungkin yang membuat saya bisa menuliskan artikel ini.

Awalnya penyakit selfie ini sederhana sekali kok, sudah saya sampaikan diatas! Pamer hal yang kecil dulu, kemudian sepatu, pekerjaan, jabatan, hmm ya mungkin liburan keluar negeri. Saya jadi ingat seorang rekan saya bernama Bang Defri meyampaikan disebuah kelas bahwa ia punya sebuah teori bahwa “andai saja semua orang dilarang mengunggah foto kegiatannya di facebook” masihkah orang-orang akan sibuk mencari kesibukan yang kita lihat seperti sekarang ini. Jawabnya ya tentu tidak! Harus kita akui bahwa salah satu alasan kita sibuk dan tenggelam dalam pekerjaan kita salah satu ujung-ujungnya ya pamer. Entah sadar atau tidak framing media sosial itu adalah landasan utamanya *bahasa kerennya tetep pamer. Terlepas jika anda memiliki brand/merek tertentu yang ingin anda pasarkan loh ya.

Saya ingin menceritakan suatu ketika saya berkunjung ke rekan-rekan SMA saya di Yogyakarta. Reuni memang memiliki kisah dan warna tersendiri, mungkin hal itu membuat kita senang, bahagia, bisa berbagi,  share foto bersama, kumpul-kumpul kemudian saling bertukar cerita dan pengalaman. Bahkan ada beberapa teman yang mengalami clbk (*bukan saya loh ya). Biasanya setelah ini berlanjut deh, kalian pada pamer jabatan yang punya jabatan, contoh kalian kerja di **** ya pamer di laboratorium. Kalian kerja jadi ***, ya pamer baju cokelat, kalian kerja di perusahaan sendiri ya pamer liburan ketika teman-teman lain pada kerja. Kalian yang jadi istri orang kaya biasanya sibuk pamer make up, pakaian modis dan tas merek mahal. Atau kalian yang punya mobil dan motor merek tertentu ya  mulai share tipis-tipis dengan embel-embel “Liburan singkat diatas motor harley dagelan”. Nah, yang ingin saya sampaikan kalau yang kalian tunjukkan itu saya, oke itu nggak papa! saya senang dengan keberhasilan kalian dan gak bisa bayangkan aja teman saya sekarang sudah sukses.

Tapi diantara rekan-rekan kita di Media sosial ini ada juga yang punya masalah dan kadang mereka ini nggak bilang-bilang.Ini sekedar nasehat buat kamu yang “berlebihan” posting kerjaan  atau jabatan kamu: ada teman-teman kita yang sedang mencari kerja, pontang-panting kesana kemari, membuat lamaran kerja dan ketika mereka liat kamu. Kamu malah pamer kerjaan dan kamu gak kasih solusi selain menghina mereka kan. Bukan baper loh ya tapi saya juga pernah ngalamin ditolak puluhan kali melamar di perusahaan swasta dan sekarang saya juga sudah kerja kok.

Pernah nggak kalian bertemu langsung, kopi darat dengan teman-teman di medsos. Saya pernah oleh sebab itu saya mengerti dan paham, ada-loh teman-teman kita yang memiliki masalah keluarga, saat kalian posting bermesraan dengan istri secara “berlebihan” , ingat teman kita ada yang single mother/father, Inget-loh ada diantara rekan kita yang bertahun-tahun menikah mereka belum dikaruniai putra/putri.  Mereka kadang nggak mau nyampaikan kepada kita atau di medsos karena itu aib buat mereka, malu atau itu membuat mereka sedih. Teman kita ada yang sedang cekcok dengan suami/istri karena masalah selingkuh,narkoba, uang dll.  Teman kita ada yang bahkan sudah cerai dan kita nggak tau kalau dia sekarang sedang sedih.

Saya jadi inget dengan  adik kelas saya yang saya bentak sampe nangis, gara-gara dia mengatakan bahwa “Si A dia baik-baik kok Kak, dia kerja dan enjoy…….dan lain-lain.”  padahal dia sudah men-janda selama empat tahun. Pertanyaan saya sama dia “Kok kamu bodoh ?” Yang namanya single mother itu ya nggak ada yang setrong. Bohong! dibalik hatinya ya dia tetap sedih melihat rekan-rekannya berkumpul dengan suami, bisa jalan dengan keluarganya, bisa kumpul satu rumah, bahkan jika ia bisa naik dan berfoto dipuncak Gunung Penanggungan sekalipun sambil tertawa lebar. Ya kalian yang salah dengan pemikiran itu, mana ada orang jadi janda kok hepi dan enjoy.  “Maaf ya dek Yudith” tapi mungkin karena kalimat saya masuk akal dan saya nggak pake basa-basi, dia jadi menangis didepan saya. Kalian sebagai teman ya harus lebih berempati dengan A, meski bukan berlebihan juga  karena bisa jadi dia memanfaatkan kalian yang terlalu baik.

Kalian pernah lihat posting jalan-jalan bersama keluarga  teman kamu sampai rasanya muak, Paris, Argentina, Chili, Eropa, aduh….kasihan rekan-rekan yang lainnya yang saat ini sedang membanting tulang dan cucian. Kasihan temen-temen yang jadi ibu rumah tangga dan masih kesulitan dalam hal keuangan, mereka sejatinya pengen juga seperti itu tapi kalian menghinanya dengan berkata secara gak langsung kamu miskin, aku kaya, bisa keluar negeri.  Saya punya rekan yang kerjanya keliling dunia, ngajar di Jepang, Amerika, Australia,  dia salah satu dokter spesialis, posting foto jalan-jalan ya cukup satu. Itupun dengan tulisan yang lucu atau dengan istrinya dan inget intinya nggak “over postingan”.

Atau kalian dengan make up tebel dan membawa brand tertentu pamer nongkrong dicafe/hotel mana gituh. Duh tolong ya, kalian nggak secantik Bunda Maya, bahkan kalian nggak sengetop Mulan Jamila loh. “Saya yakin anda menarik nafas kesal”. Okelah saya ganti anda nggak secantik Dian Sastro Wardoyo, kok pamer-pamer foto sampe gayanya berlebihan gitu. Kita tau loh kalau kamu posting foto sengaja didepan sebuah mobil yang terparkir digarasi, atau dipameran mobil ya intinya kamu pamer mobil atau kamu mau beli mobil bu. Atau kamu posting nongkrong di Mall, bersama rekan-rekan tapi yang diupload yang tasnya terlihat jelas. Atau kamu posting makanan tapi pake jam tangan merek tertentu dan sedikit terlihat jamnya. Pokoknya trik kalian semua banyak yang tahu kok. Inget deh pesan saya, kalau kalian bener-bener kaya, postingan model begitu itu nggak akan kalian lakukan loh.

Lantas selfie kenapa harus kronis, ya karena selfie ini kadang bisa buat orang semakin lama semakin nggak sadar bahwa kejadian dan kehidupan yang dia alami belum tentu orang lain menikmati. Buat apa sih posting Mercedes Benz E300 kalau kalian bisa beli, toh nggak ada gunanya juga. Setahu saya orang-orang yang benar-benar kaya itu tipe postingannya berbeda dengan orang kaya baru. Mereka banyak posting kegiatan sosial, kegiatan mengajar, berbagi informasi, kegiatan kemanusiaan dll. Silahkan cek linimasa Mark Zuckerberg, Bill atau Melinda Gates, Bono, dll. Padahal mereka mungkin punya rolls royce dirumahnya dan mereka merasa gak pentinglah share barang milik pribadi. Ingat buat orang kaya sesungguhnya, mereka berusaha terlihat bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya.

Rekan-rekan terhormat tenang saya bukan melarang selfie, tapi kalau sampai berlebihan dan kronis selfie bisa jadi racun yang membunuh anda. Bisa lihat kasus First Travel dengan dua pemiliknya yang over posting kemewahan a.k.a glamor dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang mereka dapatkan sekarang ? Nol besar. Saya jadi takut buat teman-teman yang suka over posting kegiatan mereka kelak ya menemukan kejadian yang sama dengan pemilik FT tersebut. Lantas mengapa selfie lebih kejam dari Arsenik ? karena Selfie kronik tidak saja membunuh diri anda, tapi juga membunuh orang-orang disekitar anda. Kesalahan yang anda dan saya pernah buat itu menyebabkan orang-orang disekitar kita menjadi tersakiti. Bandingkan dengan racun Arsenik yang hanya membunuh satu orang saja dan ia menyelesaikan dalam waktu singkat. Ayo bandingkan lagi dengan selfie yang membunuh kedua orang pemilik FT, selie kronik membunuh mereka secara perlahan-lahan, seperti mutasi sel yang menggerogoti dari dalam hingga pada akhirnya ia membawanya ke jurang kenistaan. Wallahualam.

166 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link