Ngobrolin Victor Hugo di Apotek -
Home / CERFAR / Ngobrolin Victor Hugo di Apotek
Patung Victor Hugo

Ngobrolin Victor Hugo di Apotek

Laurent, (dibaca : Lourong)  akrab dengan saya karena ia pelanggan apotek tempat saya kerja, ia pria menarik, bergaya flamboyan asal dari Paris. Necis, harum dan penuh senyum.  Ia tinggal bersama Lusi yang hamil sembilan bulan, padahal bukan Laurent yang menghamili Susi-ada pria lain-tapi memang Laurent orang baik, mungkin kesepian, banyak uang dan ingin menikmati Pulau Bali.

Yang bikin kami akrab, kami bercakap-cakap tentang seorang aktor : Liam Neeson. Aktor pria, serius, tubuhnya tinggi besar, berhidung mancung yang cocok memberikan gambaran tentang Jean Valjean, Pria itu baru saja bebas dari penjara di  Bagne of  Toulon. Ia menjadi gelandangan yang menggigil kedinginan, lapar dan marah dengan kondisi di sekitarnya.  Uskup Myriel memberikan kepadanya tempat tinggal, tapi pada malam hari Valjean mencuri alat makan miliknya. Di tengah jalan polisi menangkap Valjean, ia dituduh mencuri peralatan makan milik bishop. Namun  Uskup Myriel membelanya, ia mengatakan bahwa ia memberikan alat makan tersebut-dua tempat lilin–untuk Valjean, ia berkata padanya “ Hidupmu seharusnya digunakan untuk mengabdi pada Tuhan dan sudah waktunya ia menggunakan uang itu untuk menjadi orang baik.”

Meski sempat akan mencuri lagi dari seorang anak kecil, Valjean berubah menjadi orang baik. Enam tahun berlalu ia menjadi sosok pengusaha sukses dan walikota pemilik pabrik bernama Monsieur Madeleine. Tapi ada Javert, mantan penjaga penjara di Bagne of Toulone tempat dulu Valjean di penjara. Melihat Valjean memiliki kekuatan yang besar memindahkan kereta yang menindih seorang pria.Ia curiga bahwa Walikota itu mirip Valjean. “Hanya Valjean yang memiliki kekuatan seperti itu.”  Pikir Javert.

Lalu ada wanita Fantine, yang punya anak bernama Cosette yang dititip pada Thenardier, Fantine  bekerja di pabrik milik Valjeans, namun karena tekanan dari Thenardier  yang minta uang banyak untuk Cosette :  Fantine harus menjual rambut, gigi dan menjual diri untuk membayar Thenardier. Ketahuan punya anak haram Fantine dipecat, dia tak punya pilihan lain.  Fantine, dia melacur, namun tak sengaja memukul seorang pria yang bertindak kurang ajar padanya, ia ditangkap oleh Javert dan dipenjara enam bulan. Valjean meminta Javert untuk melepaskannya, karena ia merasa pabriknya bertanggung jawab atas pemecatan Fantine.

Namun penyamaran Valjean ketahuan ketika Javert memeriksa latar belakangnya, Valjean kabur. Sebelum pergi ia menemukan Fantine sekarat, meninggal dan menitipkan surat untuk melepaskan anaknya Cosette dari Thenardier. Ia membawa Cosette ke kota Paris, membesarkannya hingga ia dewasa dan tertarik dengan Marius seorang pria yang ikut dalam revolusi Perancis.

Javert memburu Valjean yang sembunyi, bertahun-tahun menunggu dan menanti mantan narapidana itu berbuat kesalahan. Hingga akhirnya ia menghadapi konflik batin karena berjumpa Valjean yang meminta izin untuk pergi, Javert merasa bersalah dan memilih menceburkan dirinya ke Sungai Seine.

Dulu Hugo mengangkat tema revolusi Perancis, kisah itu terjadi pada tahun 1796 ketika Jean Valjean dipenjara 5 tahun karena mencuri roti untuk saudara perempuannya yang kelaparan. Menurut Laurent, novel Les Miserables butuh energi besar dan banyak waktu untuk dibaca, 5 volume, setiap volume terdiri dari beberapa buku, dan dibagi lagi menjadi beberapa bab.  Totalnya 48 buku dan 365 bab yang pendek-pendek. 1900 halaman berbahasa perancis atau kira-kira 1700 halaman berbahasa inggris bukan buku menarik meski lebih tipis dibanding Martindale.

Saya mengagumi filmnya di bioskop, bahkan membeli VCD-nya! Menurut Laurent lagi : kosakata Les Miserables tak bisa di terjemahkan, miskin, sangat miskin, orang tercela. Jika di terjemahkan maka artinya sudah tidak melekat lagi. Les Miserables, adalah sebuah merek milik Hugo.

Entahlah, andai saja Victor Hugo hidup barangkali ia akan terobsesi menulis kembali Les Miserables versi indonesia. Dia pasti tertarik ajang pertarungan politik di Indonesia lebih seru dari apa yang pernah ia lihat. Di Indonesia Hugo bisa mengambil contoh keributan masyarakat Indonesia yang demam politik. Maksudnya demam politik yang tentu memerlukan obat untuk menurunkan panas, ketika saling hujat,fitnah, hoaks antara kubu satu dengan yang lain. Bahasanya sakit.

Hugo andai hidup kembali bisa diwakili oleh Laurent,  si orang Perancis curhat “Kamu tahu Indonesia itu sungguh membingungkan” Ia heran karena membeli korek api seharga lima ribu rupiah tapi cepat rusak. Di Perancis, korek yang ia beli jarang rusak meski harganya memang mahal. Seorang rekannya dimintai uang oleh polisi maka dia akan bilang, Indonesia….lalu ada lagi rekannya yang dipersulit memperpanjang izin tinggal dia bilang, Indonesia. Laurent sewa motor, motornya rusak dia bilang Indonesia,  bannya kempes ditambal lalu kempes lagi dia bilang Indonesia Dia beli baju kaos, warna bajunya cepat pudar dia bilang Indonesia.

Sedikit-sedikit Indonesia...terus apa yang baik tentang Indonesia? Dia tidak pernah bilang tapi saya punya hak menilai, bahwa ia tidak komplain terhadap tiga hal :

Pertama, rokok yang dia isap itu terlihat nikmat dan murah. Di Eropa harga Lucky Strike bisa 40 Euro. Bandingkan saat itu Lucky Strike di Indonesia hanya 15 ribu rupiah.

Kedua, wanita Indonesia, ada Lusi di sebelahnya, padahal menurut saya dia tidak menarik, bukan tipe saya. Menurut saya Lusi jelek, dekil,  tapi entah penilaian apa yang ada di benak Laurent tentang Lusi : eksotik, manis, berkulit cokelat dan bau iler ?  apakah wanita Indonesia saat itu diwakili oleh Lusi dan anaknya ? saya tidak tahu Lusi orang mana. Menurut saya masih ada pelanggan di apotek yang mirip Tamara, Aura, Syahrini dengan gelar kw! Sepertinya masalah selera, kita- sama-sama nggak komplain meskipun Laurent dan saya jauh beda. 

Ketiga, kekayaan alam Indonesia yang bermacam-macam. Yang satu ini , tidak usah ditanya lagi, sore-sore kami biasa duduk menikmati matahari terbenam di Pantai Seminyak, di Blue Ocean Cafe. Laurent menunggu matahari tenggelam dan hari menjadi gelap untuk makan malam di restoran terdekat, saya lebih fokus menunggu Azan Magrib.  

Bukan sore itu : saya, Laurent, Lusi dan anaknya duduk-duduk di depan apotek sambil tersenyum. “Au Revoir, Bernadi.”  Ucap Laurent melangkah pergi, ia naik motor bersama Lusi dan anaknya. Saya melambai dan membalas dalam hati “Selamat Jalan.”

 507 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link