Apoteker & Artificial Intelligence -
Home / BIGFARMA / Apoteker & Artificial Intelligence
Apoteker dan Kecerdasan Buatan

Apoteker & Artificial Intelligence

Pada tahun 1848 ketika Karl Max mencetuskan Manifesto Komunis, saat itu ia berusia 30 tahun, mungkin lebih ganteng saya dibanding dia. Pertanyaanya “adakah seorang peramal di era tersebut yang mengisyaratkan tentang Facebook ?” -Kok sepertinya tidak ada-  meskipun kebetulan nama kedua orang penemu itu sama-sama Mark. Memang media sosial yang didirikan oleh Zuckerberg dan kini, ada Twitter, Instagram, Google telah melampaui imajinasi umat manusia. Sulit meramalkan kejadian di masa depan ketika saat itu  umat manusia masih membaca esai-esai diatas kertas yang dicetak dengan tenaga manusia.

Sulit memvisualisasikan,  mengimprovisasi pola pikir bahwa akan ada gawai, sebuah kotak berukuran tujuh kali limabelas sentimeter yang bisa menghubungkan dua orang untuk berbicara, bertukar video dan huruf menggunakan aplikasi bernama Android, IOS dan Windows. Apalagi gawai itu diberi nama buah, atau asalnya dari Finlandia bahkan dari Republik Rakyat Tiongkok. Wajar karena saat itu mungkin hanya ada ide tentang mesin ketik, radio dan mesin uap.

Masalah ramal-meramal, coba rujuk contoh diatas, cobalah bertanya apa yang akan terjadi pada farmasis di tahun 2500 ? Tapi….jika masih ada dalam bayangan kita, itu masih kemungkinan besar bisa terjadi.

Maksudnya begini : Jadi kalau di masa depan saya berkata akan ada robot yang menggantikan farmasis­­ maka itu pasti terjadi. Itu masih bisa dibayangkan dan ada dalam alam pikiran manusia.”Untuk menggapai sesuatu yang lebih futuristis tentu kita harus keluar dari semua bayangan yang didasarkan pada pengetahuan saat ini. Cara paling mudah mungkin masuk ke dalam hal yang berbau mistik dan klenik. Tapi itu tidak fokus, untung kita punya Artificial Inteligence/AI = kecerdasan buatan yang mulai digali dan dikembangkan di masa yang akan datang.

Ada sebuah pertanyaan besar “Kenapa manusia menjadi paling berkuasa di Bumi ?” jawabnya  karena manusia paling cerdas. Jadi berdasarkan alasan tersebut kita perlu cemas dengan AI, karena dia berpotensi akan menguasai sendi-sendi kehidupan di masa depan. Saya bukan sedang keracunan  virus sekuler; tapi dimasa depan  organisme sibernetik/, = cyborg adalah sebuah hal yang mudah. Para ahli yang kini mendalami farmakologi molekuler mungkin suatu saat akan menemukan bahwa sel kombinasi bisa di sintesa dengan algoritma tertentu. Mereka bisa menggabungkan sel yang sudah mati menghidupkan manusia kembali dengan regenerasi sel-sel otak cyborg. Jalan untuk kesana sudah terbuka, saat ini algoritme dalam bidang medis sudah mulai berkembang. Microsoft dan IBM berlomba melakukan pengembangan AI di bidang medis dan farmasi. Tapi arahnya kemana ? kita tidak tahu. Mudah-mudahan bukan untuk menjadikan AI penguasa di muka bumi.

Bukan tanpa kendala, memang konyol ketika mengetahui bahwa AI masih kesulitan mengenali wajah manusia *meskipun hasilnya kini sudah lebih baik. Lantas apa riset AI yang  terjadi saat ini ? Sekarang sudah ada mobil tanpa sopir.Google sedang mengembangkannya, lalu meskipun Uber gagal ketika mobilnya menabrak manusia, tapi penelitian ini tak akan berhenti. Beberapa tahun ke depan anda cukup berdiri dipinggir jalan dan sebuah mobil akan berhenti menjemput anda karena ia sudah tahu tujuan anda.

Meskipun ada kubu yang paranoid dengan AI, – salah satunya Elon Musk- mereka mungkin memiliki pemahaman bahwa hampir semua azas akan menggunakan AI sehingga hidup jadi nggak seru lagi. Contoh : Anda ingin belanja ke Supermaket, mungkin AI akan mencegah anda berangkat karena barang yang anda beli masih cukup untuk satu bulan ke depan, AI akan mematikan mobil anda, kartu kredit anda dan mengunci anda dalam rumah sampai anda memilih kegiatan yang tepat. Jadi kalau anda pilih ke Salon lalu dipersilahkan lalu menyimpang ke supermaket ; mungkin AI akan mencegah anda belok kesana. Ruwet.  Entah apa yang ada di benak Musk, apakah ia terinspirasi film Terminator ? Wallahualam.

Sementara itu pihak oposisi, lawan yang mendukung AI memiliki keinginan membatasi AI, alasannya AI harus dikontrol dan diawasi agar bermanfaat bagi manusia. Tapi kalau memang demikian berarti “kecerdasan buatan” itu “tidak cerdas lagi” karena bukan cerdas namanya jika masih dikontrol dan diawasi.

Seandainya Alder Syntax,salah satu algoritma kekinian tahun 2018 kita anggap primitif dan Telemedisina semakin berjaya, saya membayangkan mungkin, …..mungkin di tahun 2500 anda tidak akan menemukan profesi apoteker. Hanya ada satu profesi sejenis dokter yang bertahan. Sistem penanganan pasien, menjahit luka dan lain-lainnya semua dilakukan secara otomatis. Pemberian obat tidak perlu lagi ada apoteker, peran apoteker di apotek semua bisa digantikan oleh robot AI. Proses mengadakan, menyimpan dan mendistribusikan semuanya hanya satu langkah singkat, kita bisa  menerima obat dari sebuah aplikasi terkini yang bernama X versi sekian.

Awalnya dimulai dari metode pembuatan obat, kini kita bisa menggunakan printer tiga dimensi, di masa depan akan ada printer molekul. Jika bisa terintegrasi dengan proses pembuatan sediaan. Tinggal pilih pasiennya usia berapa, jenis kelamin apa, sakitnya apa, semua data algoritma dimasukkan maka keluarlah satu sediaan yang di cetak melalui mesin printer molekul. Lagi-lagi pemberiannya disampaikan oleh sebuah program komputer terkini sejenis Siri, lantas penyimpanan obat tersebut di sesuaikan dengan kondisi lingkungan. Ekspired date ? Mungkin obat itu akan musnah dengan sendirinya ketika tanggal kedaluwarnya sampai. Untuk apa apoteker ? Tidak perlu, yang diperlukan adalah keahlian pemrograman komputer dan ahli kesehatan secara umum.   Apalagi jika sekedar mengirim data penggunaan narkotika dan psokotropika. Resep saja sudah dihapuskan kok mau mendata penggunaan obat.

Lantas bagaimana dengan perawatan pasien? Hampir semua jenis penyakit berawal dari kelainan fisiologis,  mutasi genetika, sel rusak, virus, bakteri dan jamur. Tujuannya satu menggerogoti jaringan tubuh hingga akhirnya berhenti bekerja. Jika semua bisa diselesaikan dengan sel punca Rumah Sakit sudah ada di rumah, sebuah alat yang lengkap memperbaiki sel-sel yang rusak. Alat itu juga bisa membunuh mikroorganisme patogen. Saat itu manusia sudah berbicara kehidupan tanpa batas, kemungkinannya itu saatnya manusia kembali berumur panjang.

Memang semua pendapat saya diatas sangat mudah patah, karena itu tadi “Semua yang masih bisa dibayangkan, pasti terjadi kok.” Yang mau di sampaikankan yang melewati batas, dan hal itu memang sulit. Sebagai apoteker yang maaf ”sekuler” mungkin anda akan punya seribu jawaban untuk mematahkan pendapat saya ini.  Gampang, serang saja dari sisi rentang waktu pengembangan yang terlalu lama. Menurut anda mungkin di tahun 2500 akan lebih hebat lagi.

Tapi saya sadar dari segi Akidah Ketuhanan : memang kecuali Nabi, Kekasih Tuhan,  seharusnya manusia itu tidak mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang. Alasannya karena manusia tidak punya kemampuan mengukur dan menganalisa apa yang terjadi. Contohnya; Anggap saat itu saya membaca tulisan Marx, bagaimana caranya saya bisa menyimpulkan akan ada Mark di tahun 2018..Kan susah, sebagai manusia yang hidup di zaman transisi di tahun 1818 sampai dengan 2018, satu dekade sudah tertutup. Sudah terlalu lama, untuk menyimpulkan bahwa ilmu analisis futuristis sudah selesai, mestinya para peramal angkat bendera putih bahwa memang ada hal diluar kuasa manusia, yaitu Yang Maha Kuasa.

226 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link