Mantan Jadi Racun, Itu Sama Dengan Rokok -
Home / RECEH / Mantan Jadi Racun, Itu Sama Dengan Rokok
Rokok beracun

Mantan Jadi Racun, Itu Sama Dengan Rokok

Kemarin masih rame Audrey dengan tagar #Audreyforjustice, itu kemarin…lantas sekarang dilawan dengan #Audreyjugabersalah, banyak yang protes, merasa ditipu bocil, april mop, dan hujatan juga diterima Audrey yang konon numpang tenar. Sudahlah yang penting hukum dijalankan sebaik-baiknya. Kemarin jadi orang baik lantas sekarang dihujat, sepertinya mirip dengan mantan….masalahnya mantan yang beracun itu mirip banget dengan rokok. Kenapa ? karena dulu rokok pernah jadi obat, diisap, tembakaunya dicampur tanaman Datura stramonium, atau kecubung di Indonesia. Dibakar asapnya dihirup untuk pasien yang sakit asma. Namanya Asthma Cigarette/= “Rokok Asma” Dijual secara komersil dan tersebar di Eropa, Amerika Serikat dan Cina.

Mulanya, Di awal tahun 1800-an, istilah asma merujuk pada setiap sesak napas episodik, maksudnya nyaris semua sesak disebut asma, pukul rata, padahal kita tahu sekarang hal itu belum tentu benar. Dokter harus memilah penyebab utama apakah kuman T.B.C. atau gangguan jantung (mis., Stenosis mitral); keduanya sangat umum pada saat itu. Jadi, setelah  pasien didiagnosis sakit asma, pilihan pengobatan dan perawatan juga sangat terbatas;lalu menghirup asap dari pembakaran Datura stramonium mungkin adalah satu yang terbaik.

Tanaman ini memiliki sifat antikolinergik dan merupakan cikal bakal zat antimuskarinik yang saat ini digunakan, yaitu ipratropium dan tiotropium. Selain itu ada perawatan lain, seperti menghirup uap asam hidrokyanat atau metode inflasi paru-paru. Toh perawatan ini semakin lama terbukti tidak bermanfaat, karena menyebabkan kerusakan hingga akhirnya tidak lagi digunakan.

Budaya menghirup asap sebagai pengobatan asma dipicu budaya kuno ribuan tahun sebelumnya, saat itu sulit dibedakan antara mabuk, pemadat dan kesurupan jika dihubungkan dengan mistikisme.

Di daerah Amerika Selatan, Suku Maya   mengisap opium, henbane dan thorn-apple, untuk mendapat efek halusinasi dan teler. Mereka merokok tembakau sebagai alat diagnosa dan pengobatan pada ritual Shamanistis.Lain lagi Suku Aztec dan Inca, mereka punya cara pengobatan aneh, caranya dengan meniupkan asap rokok secara rektal, kira-kira begini : baringkan pasien lalu tiupkan asap rokok ke lubang pantat. Tidak ada yang tahu bagaimana awal mula cara ini dilakukan, mungkin terinspirasi dari Suku Jivaro di Ekuador timur yang mengobati demam pada anak dengan memasukkan kandung kemih ayam betina ke dalam-….lagi-lagi lubang pantat!

Merokok opium untuk tujuan terapi dan rekreasi diketahui berasal sejak tahun 1100 SM di Cina. Opium dipercaya dibudidaya oleh bangsa Sumeria di Mesopotamia, penyebaran dan penggunaan opium diikuti bangsa Asiria dan Babilonia yang membawa opium ke Mesir.  Tahun 1300 budidaya rokok opium ini menyebar dari Mesir ke Kartago dan Eropa

Papirus Ebers yang ditulis kira-kira 1550 SM, dibuat di Mesir. menjelaskan bahwa cara untuk mengeluarkan dahak, meringankan selesma, batuk dan melegakan pernafasan tidak hanya melibatkan obat oral, tapi juga terapi inhalasi (=menghirup zat/asap) seperti Hyoscyamus niger, atau tanaman butumen langsung ke paru lewat inhalasi. Tahun 600 SM di India, menghirup asap ditujukan untuk medis dan ritual keagaamaan, disana ada : Homa, api mistik yang ditujukan untuk meningkatkan kebaikan lingkungan.Dhupa, bentuk pengasapan yang ditujukan melindungi orang dari demam dan dedemit. Dhuma jenis terapi inhalasi dari pipa/cangklong, yang dilakukan oleh terapis ayurveda.

Sementara itu metode pengobatan barat, melalui pendekatan patogenesis dan pengobatan asma sudah berjalan sejak abad pertengahan.  Hipokrates, Galen, Ilmuwan Islam dan Arab seperti Al-Razi, Yuanna Ibnu Sarabi’un.  Tahun 1025 M  Ibnu Sina menyarankan inhalasi sebagai cara melonggarkan lapisan “humor flegmatis dan tebal” di paru-paru.  Dalam bukunya Kitab al-Qānūn fī al-ibb atau Canon, misalnya, Ibn Sina merekomendasikan menghirup asap dari arsenik dan sulfur. Atau merekomendasikan pengobatan menggunakan opium meski penggunaannya harus diatur sedemikian rupa. Lalu ada seorang Rabi Yahudi, Moses bin Maimon dikenal dengan nama latin Maimonides, dia dokter pribadi Salahuddin Al-Ayyubi. Maimonides merawat putra Salahuddin yang mengidap asma, tulisannya dimuat dalam buku yang ia tulis di tahun 1190, salah satu cara mengobati asma yaitu dengan menghirup uap hasil pembakaran tanaman atau fumigasi untuk mengobati serangan asma paroksimal, salah satunya menggunakan Aloe Vera /lidah buaya.

Sepertinya saat itu tak ada pilihan, ketika Rokok Asma yang mengandung Stramonium menjadi terapi asma  populer baik di Amerika maupun di Eropa.Dikenalkan oleh Samuel Cooper tahun 1797, di Amerika dan Jenderal Gent, dari Inggris tahun 1802-sepulangnya dari India , rokok ini diracik secara pribadi oleh dokter atau pasien secara individual. Dulu ini bisa terjadi karena sifat aerosol pembakaran, asap rokok yang secara signifikan lebih efektif dibanding sistem pengiriman lain pada paruh pertama abad ke-20.

Tidak ada pilihan lebih baik ! dibanding sirup, tablet atau injeksi, akibatnya manfaat terapi yang diberikan oleh rokok asma secara signifikan menutup  potensi kerugiannya. Meski akhirnya dampak merugikan oleh rokok terjadi secara bertahap, dan semakin parah dengan penggunaan jangka panjang. Memang, di sisi lain, efek dari asap yang mengandung atropin dari rokok relatif cepat karena antikolinergik atropin adalah obat yang sangat efektif untuk mengobati asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Pada peralihaan menuju abad 20-an terjadi produksi skala besar rokok asma yang dijual kepada pasien. Mulai saat itu sejumlah rokok asma yang mengandung stramonium tersedia secara komersil, di Eropa, Amerika Serikat dan Cina. Beberapa dari rokok tersebut dicampur rempah-rempah seperti daun teh, biji kola, lobelia dan daun atropa beladon yang mengandung atropin.

Saat ini, sudah terlalu banyak data yang menunjukkan risiko kesehatan yang terkait dengan merokok, terlihat mengejutkan bagi pembaca milenial bahwa rokok pernah jadi pilihan terapi yang disukai pasien dengan penyakit paru-paru. Padahal sudah jelas, jika asap dari rokok asma mengandung tar dan sejumlah zat beracun lainnya yang terbukti merusak fungsi paru-paru. Kini, atropin dan obat analog strukturalnya, ipratropium dan tiotropium, tetap merupakan komponen penting dari terapi asma dan PPOK dengan penjualan tahunan pada tahun 2014 lebih dari $ 7 miliar.

Rokok asma akhirnya berhenti di produksi, kita memang tahu rokok berbahaya, tapi tetap saja : Rokok yang kita benci itu ternyata pernah juga jadi obat. Seperti mantan kamu, rokok yang dulu jadi obat…..kini jadi racun mblo!

 

Sumber :

  1. Mark Jackson, “Divine Stramonium”: The Rise and Fall of Smoking for Asthma, April 2010, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2844275/#fn17
  2. Erika von Mutius, M.D., Jeffrey M. Drazen, M.D. A Patient with Asthma Seeks Medical Advice in 1828, 1928, and 2012, NEJM, https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra1102783
  3. Eric Burns , The Smoke Of Gods, A Social History of Tabacco, Temple University Press, Philadelphia, 2007, http://tcsc-indonesia.org/wp-content/uploads/2012/11/ebooksclub.org__The_Smoke_of_the_Gods__A_Social_History_of_Tobacco.pdf
  4. Stephen W. Stein, MS,Charles G. Thiel, BA, The History of Therapeutic Aerosols: A Chronological Review, Journal Aerosol Med Pulm Drug Deliv. 2017, Feb 1; 30(1): 20–41.Dipublikasi daring di :  https://dx.doi.org/10.1089%2Fjamp.2016.1297
  5. C.Thomsonet.Al, Eur.Resp.journal, 2004; 24 :822-823, European Respiratory Society

144 total views, 2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link