Love, Live & Smile - Chapter 9 -
Home / NOVEL SEKAT / Love, Live & Smile – Chapter 9

Love, Live & Smile – Chapter 9

“Kau dari Indonesia ? kenapa jauh-jauh ke Amman ?”  tanya Pria itu, nadanya mengancam.

Rei mengelap tangannya dan mulutnya, Flori menatap heran ke arah Pria itu, dia baru mau bicara tapi Rei memintanya diam.

“Aku mau umrah ke Hijaz, dan sekarang mau ke Al-Quds,” ucap   Rei, “Kenapa kau bertanya ?”

“Aku tak suka ada orang asing di sini,” jawab pria itu, tubuhnya cukup kekar, kulitnya terbakar sinar matahari.

“Maaf, tapi aku transit di negaramu Brother ,” jelas Rei.

“Kamu dan dia, orang Perancis itu. “ Pria itu menunjuk ke arah Flori, wajahnya merah padam penuh kebencian. Dua pria itu terlihat sangar, penuh ancaman, seorang tinggi besar tubuh kekar, dia berjenggot yang satu lagi yang sedang mengancam Rei tubunya gemuk, pendek dan gempal.

“Aku melindunginya,” jawab Rei, padahal dia sadar bahwa dia dan Flori baru ketemu tadi pagi.

“Dia kafir, dan manusia busuk ini  bau bangkai ?” jawab si kekar. Pria itu mendekat ke arah Rei, Ahmad berdiri di kursinya, dia berkata pelan berusaha menenangkan.

“Brother jangan bikin ribut. Shollu’alannaby, sudahlah makan sana,” Ahmad mengangkat tangannya, maksudnya mungkin mau mencegah pria itu maju, tapi pria itu langsung mendorong Ahmad, dia nampaknya memang mau cari gara-gara. Tangan pria itu mendorong bagian dada kiri Ahmad, cukup keras sampai dia jatuh terpental ke pojok. Brakk, kursi dan meja bergeser ditimpa Ahmad,  Rei segera mendekat dan meraih lengan pria di depannya. “Hei jangan begitu.”

Pria kekar itu balas memukul Rei, mengayunkan tangannya sekuat tenaga. Rei menghindari pukulan orang itu, dia mengelak lalu mundur. Flori yang sedang makan bangkit dari kursinya dia mengambil gelas seolah tahu bahwa itu barang berharga yang bisa pecah diatas meja. “Hei Gentlemen, stop jangan berkelahi,” ucap   Flori, dia panik mundur menjauh, berharap dirinya tidak kena pukulan nyasar.

“Kalian bikin rusak kampung kami saja,” ucap   Pria itu dia sudah mau mendekat dan siap memukul Rei lagi. Tapi Ahmad menerjang pria itu, pria itu meja yang ada di pojok terdorong jatuh ke aspal. Berdua mereka terjerembab ke aspal di depan meja, untung pinggir trotoar itu sedang sepi, itu jalanan kampung.  Rei menatap sekeliling, memang disitu kawasan yang cukup sepi. Tak ada orang yang berbelanja dan lalu lalang.

Teman pria itu, si gemuk datang membantu, dia siap memukul Ahmad, tapi Rei buru-buru mendorong pria itu, sementara Ahmad dan si kekar itu masih terbaring di lantai, mereka kesakitan.

Dari dalam datang dua orang bertubuh jangkuk, mereka mengenakan gamis, dan celemek. Sepertinya mereka para tukang masak yang kerja disana.

“Berhenti,” kedua orang itu membawa tongkat kayu, dan memukul punggung pria yang cari gara-gara itu.

“Jangan bikin ribut disini,” itu Hisyam yang keluar, dia membawa pisau pemotong daging. “Mereka tamuku, kita tidak pernah menghardik tamu,”

Pria kekar yang  jatuh di lantai itu sadar, mereka berempat lawan dua orang, dia berbicara bahasa arab, lalu mengajak temannya pergi setelah sebelumnya meludah di depan Flori.

Hisyam saudara sepupu si Ahmad, menepuk Rei, meminta maaf kepadanya dan juga Flori. “Maaf-maaf. Silahkan lanjutkan” ucap  nya sambil menunduk-nunduk. Flori berdiri memegang dua buah gelas berisi air.

“Maafkan aku mereka adalah perusuh di kampung ini, suka cari gara-gara,” Lanjut Hisyam. “silahkan duduk, aku akan ambilkan kalian roti dan kismis,”  Hisyam masuk ke dalam dengan dua asistennya yang berbadan tegap, mereka tersenyum pada Ahmad yang menggaruk kepalanya.

“Maaf, Rei, Flori…aku merusak liburan kalian,” sahut Ahmad.

“Ah, sudahlah…lagipula aku tak menyangka mau berkelahi di Amman,” Flori duduk kembali di kursi, dia melanjutkan melahap potongan kebab yang masih tersisa di piringnya.

“Huh, Flori, jadi kau hanya berdiri pegang gelas ?” tanya Rei sebal. Flori menelan makanannya, dia menjawab sambil memegang gelas, mengangkat tinggi.

“Loh ini kan kalau pecah berharga juga.”

“Iya, tapi kenapa kau tidak ikut bantu memukul sih ?parah,” ucap   Rei.

“Oh ya ? Terus terang kebabnya enak. Jadi aku lebih fokus kepada makanan daripada kalian,” jawab Flori “ sial juga.”

“Syukurlah kalau kau suka, terimakasih Flori,” ucap   Ahmad, dia tertawa dan berkata dalam bahasa arab kepada Hisyam yang juga tertawa. “Hisyam kata Flori kebabmu enak,” Rei yang ada disamping Ahmad melanjutkan makannya, dia menikmati potongan daging kambing muda yang dicampur bumbu.

“Jadi sekarang kemana ? “ saat itu sudah pukul 14:00 masih juga awan kelabu itu menutupi langit kota Amman. “Aku akan mengantar kalian kemana kalian suka,” kata Ahmad.

“Kamu punya tempat yang bagus dekat sini Ahmad ?” Rei bertanya.

“Ya, ini kampungku di Amman. Setiap sudut aku tahu.”

“Lantas ada tidak tempat yang bisa kita duduk-duduk.”

“Ada, ayo aku tunjukkan,” Ahmad segera masuk dia memberikan tips kepada pelayan yang tadi membantu. Hisyam  melambaikan tangan ke arah Flori dan Rei.

Bersambung ke Chapter-10

150 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link