Love Live & Smile Chapter-8 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile Chapter-8
Di Restoran

Love Live & Smile Chapter-8

“Hei Flori,” panggil Rei, dia terlihat berseri-seri, wajahnya segar habis disiram air, Ahmad juga, senyumnya berseri,  dia mengacungkan jempol lalu menjauh, dia keluar kepintu depan mengambil mobil ke teras.   “Ayo kita makan siang,” Dua pria itu memberi tanda, berdiri di depan Flori lalu bergerak menuju pintu keluar.

“Hai oke,” jawab Flori bangkit, dia berjalan mengikuti Rei dan Ahmad ke depan hotel. Tak lama mereka sudah terayun di dalam mobil milik Ahmad, tak ada yang tahu kemana Ahmad mengantar mereka. Tapi Rei sudah menjelaskan kalau mereka mau makan siang. “Lunch Ahmad, kebab, Kfc,”

“Ya, tapi aku ingin kalian makan di dekat rumahku, disana ada kebab yang enak. Penjualnya saudaraku.,” Protes Ahmad, dia bercerita bahwa dia ingin mereka berdua makan di sana karena Rei dan Flori kini menjadi tamunya.

“Mahal tidak Ahmad ?” tanya Flori, sekarang dia sudah mulai ikut komentar.

“Tidak, cukup bayar 3 dollar kalian bisa makan sepuasnya..,” Rei menatap Flori, dia mengangkat bahu meminta pengertiannya. Flori mengangguk, mereka keluar dari jalan utama masuk ke jalanan perumahan para diplomat tapi mereka terus ke arah selatan, ke arah pinggirian Kota Amman.

Di sebuah jalan raya namanya tidak jelas karena buram, mereka belok ke kiri, disana ada deretan toko yang sepi, beberapa toko kelontong, penjual buah dan toko alat pecah belah. Dan di ujung penjual sebelah penjual buah. Ahmad berhenti di depan sebuah rumah makan, namanya Bit Corner, ada juga tulisan arab tertulis di papan nama di atas restoran itu. Luasnya 4 kali 5 meter dan mampu menampung sepuluh orang. Di teras ada dua meja, beratap tenda warna hijau. Rei lebih suka disana.

“Flori,” ajak Rei, dia sudah duluan duduk di kursi teras sambil memperhatikan Ahmad, ketika dari dalam seorang pria usianya lebih tua dari Ahmad, mendekat ke meja depan. Dia tersenyum sambil membuka celemek di dadanya. Pria itu mengenakan kaos putih agak kotor terkena tepung, tapi tangannya bersih ketika dia menyalami Rei, “Ahlan wasahlan, dari Indonesia Brother ?” tanyanya dia memeluk Rei.

“Ya, saya dari Indonesia, terimakasih Ahmad sepupumu memaksa makan Kebab paling enak di Amman.”

Masyaallah, tidak terlalu enak, tapi aku senang , namaku Hisam silahkan makan sepuasnya sampai kalian kenyang. Dia terlihat tidak terlalu memperhatikan penampilan, tapi dia rapi dan kios kecil itu terlihat bersih sekali. “Ahmad sudah membayari kalian,” Rei menatap Ahmad, penuh pertanyaan.

“Kenalkan ini Flori,” wanita itu  menunduk malu karena pria itu buru-buru mundur tak ingin menyalaminya, Pria itu  tersenyum dan berkata selamat makan padanya. Ahmad kali ini duduk bersama mereka, diikuti protes oleh Rei. “Silahkan,silahkan,”ucap  nya meninggalkan mereka di teras.

Rei berkata pada Ahmad “Hei, Ahmad, kenapa kau traktir aku, aku kan turis,”

“Kalian saudaraku dan Flori juga meski dia dari eh Paris ?”

“Ya aku dari Paris.,” jawab Flori memberi konfirmasi, dia mengacungkan jempol sambil melihat-lihat daftar menu, semuanya bahasa arab dan sepertinya itu kebab.

Tak sampai lima menit,  seorang pria itu pelayan restoran pembantu Hisham, dia mengantar kebab yang dicampur jeruk nipis dan roti arab. Baunya enak dan menyengat Flori mengambil dua buah, Rei juga. Ahmad dia makan roti putih sambil mencelup ke dalam piring berisi campuran mayonaise dan minyak zaitun.

Mereka baru saja asik menikmati makanan ketika dua orang pria datang. Mereka mengenakan gamis linen warna gelap, berjenggot lebat seperti Ahmad, mereka mengenakan tutup kepala topi milik pejuang Afghanistan. Mereka terlihat tidak senang dengan Ahmad dan tamunya.

Dua pria itu duduk di meja dekat pintu keluar di meja yang atapnya ditutup tenda hijau juga. Mereka mendengus ketika melihat Flori makan, Rei sadar mereka sedang tidak senang. Seorang dari pria itu bertanya pada Ahmad.

“Mereka orang asing Brother ?”

Ahmad menjawab sambil meminum air, dia berusaha terlihat tenang. “Ya, mereka tamuku. Rei dari Indonesia” ucap   Ahmad menunjuk kedua temannya “ Flori dari Paris,”

“Uh, dia pasti mata-mata di Amman,” ucap   Pria itu membentak sambil menunjuk Flori.

“Hai, jaga mulutmu,” Ahmad Protes dia mulai merasa ada yang tidak cocok dengan dua pria itu.Salah seorang pria itu mendekat ke Rei, “kau dari Indonesia ? kenapa jauh-jauh ke Amman ?”

Bersambung ke Chapter-9

 181 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link