Love Live & Smile - Chapter 6 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile – Chapter 6
Hotel Room

Love Live & Smile – Chapter 6

“Ada apa ini ?” tanya Ahmad merasa semua orang memperhatikan dirinya, lalu ada percakapan bergemuruh lagi. Ahmad diam, dia salah tingkah ketika melihat semua mata melihatnya, lalu tiba-tiba semuanya berjalan normal lagi.

“Ayo kita duduk disana,” ucap   Rei, dia juga sadar ternyata disana banyak orang yang memperhatikan. Mereka bertiga duduk di sofa, warna kulit onta, krem, dialas karpet dari Konya di Turki dan lampu yang berwarna temaram. Seorang pelayan menyapa Flori, dia mengenal wanita itu karena kemarin memesan sepiring Lasagna spesial. “Ada yang bisa dibantu Madam ?”

“Eh ya aku pesan satu teko kopi, dan ambilkan tuan-tuan ini roti dan kue,” pelayan itu mengangguk, menunduk lalu  dia pergi. Ahmad s dia tahu bahwa dia adalah pengemudi, dia mengambil sofa diujung dekat televisi dia menyalakan tv, mengambil koran, sementara Rei dan Flori mengambil duduk di sofa terdekat.

“Ayo..,” ucap   Rei. “Kau bisa istirahat dulu, nanti makan siang bisa turun kesini,”

“Dengar, aku tidak ingin makan siang. Aku ingin istirahat,eh siapa namamu Rei ?”

“Heh Flori, sekarang baru jam sebelas, kita makan siang setelah Duhur, sebentar lagi aku dan Ahmad solat, setelah itu kau  bisa ikut kami makan ayam goreng di KFC…kau punya pilihan yang lebih baik ?”

“Aku kan mau istirahat,” jawab Flori.

“Ya kau boleh istirahat, tapi aku dan Ahmad menunggu disini sampai kau selesai istirahat,”

“Bagaimana kalau aku tertidur sampai sore..?”

“Ya, tidak apa-apa asalkan kau turun masih dalam bentuk manusia dan masih hidup,” Jawab Rei ketus,”Ingat, jika kau bunuh diri, maka kau akan mengecewakan Ahmad, aku dan huh.”

“Siapa?”

“Masyaallah, percayalah perbuatanmu itu hina di mata kami, di mata semua orang yang nanti solat Duhur bersamaku, dimata semua orang islam di dunia ini. Dan aku,…aku nanti takut diminta pertanggung jawaban bahwa aku tidak menjagamu Madam,” Rei diam, dia menghela nafas sepertinya kesal.

Rei sadar dia membentak Flori, wajahnya pucat dan ketakutan, dia berkata, kali ini lebih pelan.

“Percayalah Flori , aku hanya ingin kau hidup,”  ucap   Rei tegas, dia berusaha meyakinkan Flo yang tampaknya masih ragu. Rei menatap Flori dan diam, dia menunggu reaksi wanita itu.

“Okelah, aku ke atas dulu,” ucap   Flori, dia tak tahu mau mendebat Rei apa lagi. “..dan jangan terlalu berharap Mister Rei, kalau aku akan turun dan menemuimu,” suaranya terdengar ketus.Flori melangkah, dia masuk ke dalam lift yang terletak di tengah ruangan antara lobi dan pintu menuju restoran.

Rei diam, masih sebal dengan wanita itu yang melangkah menjauh, tingginya nyaris 177 cm, lebih tinggi satu sentimeter dari dirinya. Tubuhnya langsing, dan dia bau harum. Parfumnya seperti bau sabun lifebuoy. Rei, meletakkan tubuhnya di sofa, Ahmad menatap dan bertanya “Khaifa ?” bagaimana ? Dia mengangkat telapak tangan kanannya ujung jarinya menguncup. Seperti gaya arab jika protes atau bertanya.

“Tunggu saja, Ahmad,” jawab Rei, dia melirik seorang pelayan wanita yang membawa seteko kopi yang mengepul, dan sebuah piring berisi sepotong Black Forest, dan kue kering Nastar, dan Macaron. “Syukron,” ucap   Rei sambil tersenyum, setidaknya dia bisa menikmati kue dan teh.

Flori masuk kamarnya, keluar dari lift, dia melamun, menatap keluar dari sebuah jendela kecil yang menempel di dinding. Pemandangan siang itu masih kelabu, seperti di Paris jika musim semi ,matahari sayu , malu-malu dibalik kabut awan. Dia memeriksa kantong, menatap masih ada kunci kamarnya, “Bukankah tadi aku mestinya mati ?” Pikirnya, sekarang dia sedang berjalan menuju kamarnya di lantai 7, dia masuk ke kamarnya. Meletakkan kartu disamping tombol lampu, tiba-tiba lampu kamar menyala, semuanya rapi.  Bantal putih, selimut putih, dia memperhatikan sebuah tas Luis Vuitton, tak berubah tempat. Koper American Traveler warna perak, ranjang single yang cukup besar, standar hotel bintang lima. Sebuah sofa dan kamar mandi sudah dibersihkan lantainya kering, dan ada handuk baru.

Tapi Flori kaget saat mau masuk kamar mandi. Itu teleponnya berdering, sedikit malas dia mengangkat telepon yang berbunyi menggema itu.

Oui, Halo.”

Bersambung ke Chapter 7

 242 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link