Love Live & Smile - Chapter 5 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile – Chapter 5
Amman - Jordan

Love Live & Smile – Chapter 5

“Kenapa kau ke Palestina ?’ tanya Flori. “Mau mendaftar jadi jihadis ?

“Huh, disana ada Masjid Al-Aqsha, tempat suci ke tiga umat muslim dunia.”

Masyaallah,” ucap   Ahmad tiba-tiba. “Ya, Masjidil Aqsha,” Ahmad mengacungkan jempolnya dia seperti tersihir mendengar Masjid yang ada di kampug halamannya.Flori tersenyum sinis, baginya dua orang pria di depannya ini adalah para jihadis, wahabi, teroris  anak buah Syeikh di Beirut, itu yang disampaikan Ben kepadanya. Tapi dia tidak sedang diculik, dia tahu Stockholm Syndrome, penculikan yang membuat tawanan yang diculik jatuh cinta pada penculiknya. Flori berusaha fokus tidak ingin membuat salah penilaian kepada dua orang itu lagi. “Tidak, tidak,” mereka mungkin teroris, tapi Rei sudah menolongnya untuk “tidak mati” hari itu.

Mereka belok ke kanan, menuju Zahran Street, Rei menyaksikan gedung tinggi di sebelah kiri dan kanan. Sepertinya itu distrik pusat kota, seperti di jalan Thamrin dan Sudirman, mereka lurus lalu belok kiri ke Al-Kuroum St . Di sebelah kanan sudah ada bangunan Hotel berlantai 10 warnanya krem, muda. Seperi yang Rei pernah lihat di Jakarta.

“Oke, di depan lobi saja,” ucap   Flori, “Merci Beaucoup.Terimakasih.”

Ahmad belok masuk kelobi, mobil sedan bututnya mungkin tidak menarik dilihat oleh petugas. Tapi waktu Flori turun, mereka buru-buru menyambut. “Selamat datang Mam,” ucap   petugas itu, mereka mendekat ke arah Flori, dia turun dan menutup pintu, Flori baru mau mengucap  kan terimakasih kepada Rei, di kaca dapan saat Rei ikut turun. Pintunya terbuka dan mengenai bahu Flori. “Brukk.”

“Aduh,” Ucap   Flori kaget, dia  tak menyangka Rei mau turun. “Pelan-pelan,” dia menatap Rei,”Kenapa kau mau turun ?”

“Loh, aku dan Ahmad, akan menemanimu di lobi… Aku belum makan siang jadi sebaiknya kau sekarang masuk kamar menyiram kepalamu mandi, lalu turun lagi.”

Flori merasa terdesak dan panik “Aku tidak mau diganggu anak muda…?”

“Hei, aku bukan anak muda lagi.”

“Uh ya, tolong tinggalkan aku.”

“Oke, tapi apa yang menjamin kamu tidak meloncat dari kamar hotel,” ucap   Rei, petugas yang tadi tersenyum di sebelah Flori menatap penuh rasa curiga. Dia kaget mendengar kata meloncat dari hotel. Rei menekankan lagi pertanyaannya “Hei Madam, tadi kau mau loncat dan bunuh diri..,” lanjut Rei lagi.

Tapi Flori sadar, dia di dekati oleh dua orang petugas yang mulai bertanya “Ada apa..ini,” Flori menepuk Rei dan mengajaknya buru-buru masuk ke dalam hotel.

“Sudah, sudah,kau membuat keributan di depan hotel,” mereka masuk ke lobi, disana sudah ada deretan sofa yang berjejer, Ahmad yang sudah memarkir mobil tampak berjalan dari parkiran menuju lobi.  Rei masih juga ngotot, dia melepaskan pegangan Flori di pundaknya.

“Hei Madam, Kau pikir aku akan membiarkanmu depresi lagi ? Apa jaminannya kau tidak bunuh diri disini, ingat pokoknya selama aku ada di dunia  ini, kau tidak boleh bunuh diri.”

Flori merasa orang-orang di lobi mulai melirik dan memperhatikan mereka berdua. Pengunjung disana berbisik-bisik tampaknya mereka terganggu dengan keributan yang dibuat oleh Flori dan Rei. Ahmad masuk ke dalam lobi, dia menimbulkan bunyi berderik pada pintu yang dia dorong. Dia mendorong cukup kasar, dan membuat semua pengunjung menatap ke pintu depan.

“Ada apa ini ?” tanya Ahmad merasa semua orang memperhatikan dirinya,

Bersambung ke Chapter-6

 848 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link