Love Live & Smile - Chapter 4 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile – Chapter 4
Car in Desert

Love Live & Smile – Chapter 4

“Apakah masih ada penerbangan ke Amman ?” tanya Rei.

“Saya tidak tahu, hanya bekerja berdasarkan data komputer di depan kami,” pria itu tersenyum, dia paham kebingungan yang dialami Rei dan Aslam.

“Apakah ada cara kami  bisa terbang malam ini ?” tanya Aslam.

“Tunggu sampai ada solusi dari perusahaan,” Aslam melirik ke arah Rei, dia memberi tanda pada Rei untuk menjauh. Dia paham pria yang ditanya itu juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia mungkin harus berurusan dengan Manajer Royal Jordan yang bisa menjelaskan rencana apa yang bisa dilakukan untuk menerbangkan mereka.

Saat itu sudah pukul 12 malam, sayup-sayup terdegar suara di pengeras suara, penerbangan RJ293 tujuan Amman dipersilahkan naik ke pesawat. Panggilan itu membuat Rei dan Aslam tambah panik, “Masyaallah, Jadi kita naik apa  ya ?” tanya Aslam.

“Wallahualam, aku juga tidak tahu,” jawab Rei, padahal dia terbayang malam ini terbang ke Amman, lalu pagi hari pukul delapan dia naik pesawat lagi dari Amman ke Jakarta. Rencana itu pupus dan buyar seketika. Kali ini orang-orang yang antri sudah berganti lagi, mereka orang-orang kulit hitam yang mau ke Tunisia, meski berkulit hitam tapi mereka memiliki senyum menawan, dan tak sungkan-sungkan menolong. Rei berjalan ke kursi yang lain, disebelahnya ada pancuran air minum, tempat dia bisa menelan air dingin yang terasa segar.

Penumpang baru tambah banyak dan antrian semakin penuh. Rei dan Aslam berdiri tak tahu mau bikin apa, mereka kadang diusir oleh petugas, meminta mereka jangan menghalangi antrian penumpang yang mau pulang, itu. “Ruh ruh..,” usir petugas itu, mereka askar yang ditugaskan di Bandara Jeddah.

Maryam, istri Aslam dia sudah kembali dari ruang menyusui, dia bilang pada suaminya bahwa di ruang khusus itu dia lebih aman dan bisa tidur. Ada dua wanita disana yang juga membawa bayi, mereka bisa bercakap-cakap dan berbaring. Aslam terlihat senang, dia tersenyum memperhatikan si kecil Bryan yang tertawa bahagia, dia membawa sebuah mobil Tank mainan warna hijau, rambutnya keriting dan warnanya pirang.

Dia berulang kali tersenyum pada Rei sedikit menghibur hatinya yang gundah gulana.

–++—

“Ahmad, ruhh, ..ayo kita jalan,” Panggil Rei, pria arab bertubuh langsing itu membuang rokoknya. Flori, dia sudah selesai merokok, sejak tadi melirik-lirik ke dalam toko, mencari andai ada kismis yang bisa ia beli.

“Tunggu aku,” jawab Flori, dia masuk ke pintu belakang. Ahmad menyalakan mesin pelan-pelan dia menjauh dari areal itu kawasan Al Judayyidah menuju ke Airport Rd.  Tanjakan lumayan tinggi membuat telinga pekak. Lewat Madaba, mereka bergabung dengan Bus dan kendaraan yang melewati highway dari Bandara.

Tujuan mereka pusat Kota, tempat Flori menginap di Grand Hyatt, pukul 09:30 wib, mereka meluncur tanpa ada hambatan sampai di Persimpangan Na’ur, Ahmad lurus, dia mengambil jalan utama dibanding belok ke kanan. Tak ada suara selain suara musik arab, gendang dan kalimat yang tak dimengerti oleh Rei dan Flori. Ahmad, dia sibuk dengan pikirannya.

“Kau pelajar di Amman ?” Tanya Flori, dia memecah keheningan, sadar bahwa musik diputar terlalu keras, Ahmad mengecilkan volume.

“Bukan, aku pulang umroh. Tiba tadi pagi dari Jeddah,  Pesawatku terlambat 1 hari dan aku dapat kesempatan menginap di Hotel Bandara, besok aku berangkat ke Jakarta pukul delapan malam. Kau punya tiket pulang ?” Tanya Rei.

Flori mengingat-ingat tanggal kapan dia pulang. “Ya, tiketku juga besok ke Paris, naik Royal Jordan.”

“Kau tidak mau melihat-lihat kota Amman ?” tanya Rei. “Aku sudah melihat waktu berangkat ke Jeddah minggu lalu, jadi sekarang aku ke Laut mati, mungkin pulang.”

“Tidak, aku tidak tertarik,” jawab Flori, pertanyaan yang malas dijawab. Dia sudah beberapa kali ke Amman bertemu Ben, dia janji di Petra, di Bandara dan menginap di Hilton Resort di pinggir Dead Sea, Hmm, Ben, kenapa kau menikahi wanita itu. Flori sudah mau menangis lagi, matanya berkaca-kaca membayangkan Ben menikah dengan Sharma, si gadis India yang bertubuh montok, kan kulitnya cenderung gelap. Kalau wajah Flori, uh sudahlah.  Flori mengambil lagi saputangannya, kali ini warna merah tua. Kalau tak salah itu merek Gucci, dia mengelap ujung matanya yang berair.

“Aku sudah ke Petra, lalu ke Gua Ashabul Kahfi, seven sleepers, dan rencananya aku memang mau ke Kota sih,” jelas Rei, dia menatap ke depan, sejak kemarin menyaksikan mobil-mobil yang berbeda dengan yang ada di Indonesia.Ada Suburban, GMC…ada Chevrolet, Subaru, KIA semuanya berbeda dengan yang biasa ia lihat.  Mereka lurus ke persimpangan Prince Hashim, seperti di Semanggi ke kiri menuju Prince Hashim Street .

“Kau tadi bilang tinggal dimana,….. Denpasar ?” tanya Flori.

“Aku sudah 1 tahun kerja di Denpasar, aku ingin umroh jadi mengumpulkan uang untuk ke Makkah dan Madinah. Kau pernah ke Denpasar ?”

“Tidak, aku hanya tahu Bali, Yogyakarta, Jakarta.”

Rei tertawa “Denpasar itu di Bali, dan aku berasal dari Yogyakarta. Ayahku orang Jogya, dan Ibuku orang Solo,” Rei menjelaskan bangga. “Aku yakin kau belum pernah ke sana kan ?”

Flori mengangguk, dia tak menjawab. Sebenarnya Frank dan Emma, dan dosen di Sorborne sudah pernah mau ke Bali, mereka bertiga dan rencananya akan tahun baru disana. Tapi, dia kembali ingat, janjian dengan Ben di Tel Aviv,…huh. Dia memajukan kepalanya, diantara pundak Ahmad dan Rei, mendengar suara Rei menjelaskan.

  “Sebenarnya aku mau ke Palestina, tapi Ahmad kesulitan mencari sponsor untuk masuk kesana. Ya sudahlah, aku pulang saja,” lanjut Rei.

“Kenapa kau ke Palestina ?’ tanya Flori. “Mau mendaftar jadi jihadis ?

 

Bersambung ke Chapter 5

201 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link