Love Live & Smile - Chapter 3 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile – Chapter 3
Chaos In Airport

Love Live & Smile – Chapter 3

Kemarin pukul delapan malam, Rei berangkat dari Makkah, setelah Tawaf Wada’ dia memesan sebuah taksi limosine yang disewa di Hilton Tower. Itu sebuah sedan Bentley, dia ingin memanjakan tubuhnya yang pegal, dibanding naik Bus Saptco, toh ujung-ujungnya di Jeddah dia nanti naik taksi lagi ke Bandara. “Buang waktu dan biaya,” Satu jam perjalanan lalu dia tiba di Bandara, dia menunjukkan tiketnya, pada petugas yang mengatakan bahwa namanya tidak ada disana, Rei langsung Panik.

“Hei kenapa namaku tidak ada di tiket ?”

“Karena memang belum ada,” Rei merasa kesal dia menjelaskan sambil menahan emosi yang siap meledak.

“Aku sudah ke agenmu di Corniche, namanya tuan Sammi dia yang bilang bahwa tiketku sudah oke, pukul 22:30 wib dari Jeddah ke Amman.”

“Ya, tapi nama anda belum ada di sistem,” Rei jadi takut, pucat membayangkan dia harus ketinggalan pesawat terhubung ke Jakarta. Bukankah besok pukul delapan pagi dia harus terbang lagi. Perjuangan ke Kawasan Jawad,di Jeddah mencari agen Al-Urdunia itu juga diwarnai debat saling tidak paham antara Sopir Taksi dan Rei. “Si sopir taksi itu berpikir Rei mau ketemu Raja Jordan,…,” padahal yang dicari kan Royal Jordan Airlines.

“Tuan, tapi tiketku besok terhubung ke Jakarta ,” Itu kalimat yang diucap  kan Rei,nyaris merengek berharap dia dapat tiket pulang malam itu. Membayangkan tidur di lantai Bandara Jeddah, King Abdul Aziz, bersama orang-orang dari Ethiophia yang dirubung lalat itu ? aduh. Panik membasahi punggungnya, itu keringatnya.

“Maaf, silahkan menemui tuan Rima di Kantor ,” Rei langsung berlari, dia bertanya kepada petugas keamanan dari afrika itu, “Dimana kantor Royal Jordan Airlines ?” Pria itu menunjuk ke sebuah lorong dan menjelaskan bahwa kantor itu ada di pojok. Rei berlari, membawa sebuah tas berisi baju ihrom dan sendal jepit, dia berlari masuk ke sebuah ruangan, tuan Rima, dia seorang supervisor yang bertugas hari itu. Nampaknya ada juga orang yang punya masalah sama dengan Rei, mereka pasangan suami dan istri dari London, mereka membawa anaknya.

“Apa masalahmu anak muda ?” Tuan Rima bertanya, dia mengenakan seragam putih hitam ada tanda Royal Jordan Airlines di dada kirinya. “Tiketmu tidak ada di sistem kami ?”

“Ya, benar,” jawab Rei, “aku sudah lapor di agen di kota bahwa tiketku sudah oke dan tidak perlu lagi lapor.

“Ya, masalahnya namamu belum ada,”

“Loh solusinya apa ? aku besok harus terbang dengan Royal Jordan dari Amman ke Jakarta.”

“Maaf, silahkan tunggu di konter tiket, aku akan berusaha,” pria itu juga sedang putus asa, wajahnya pucat dan dia mungkin belum pulang dari sore.

“Kalau anda minta aku menaikkan kelas, aku akan membayarnya,” ucap   Rei nyaris putus asa.

“Ya, kami juga mau,” Jawab Pria yang ada di sebelah Rei, dia ditemani istri dan anaknya. Namanya Aslam.

“Maaf, silahkan tunggu di konter aku akan membantu anda,” jawab Tuan Rima, dia menunjuk ke pintu keluar, dan sepertinya di juga sudah pusing tujuh keliling mengurus penumpang yang keluar dari Jeddah.  Rei dan Aslam sadar, mereka tak diharapkan lagi disana, mereka keluar dari ruangan di depan kantor Pria Inggris yang bernama Aslam itu menyalami Rei, “Brother…kamu sendirian ?”

“Ya, aku sendiri.”

“Semoga kita dapat tiket, besok tiketku Amman ke London dan harapannya malam ini aku bisa terbang ke Amman.”

“Insyaallah, aku juga panik,” jawab Rei, mereka berdua jalan beriringan, ke konter tiket pesawat yang kini mulai sepi. Rei dan Aslam duduk di kursi sebelah istri dan anaknya, namanya Brian dia masih dua tahun dan sudah diajak umroh oleh ayahnya. “Namaku Rei, Nyonya,” Rei memperkenalkan diri berusaha terlihat  sopan, wanita itu mengenakan kerudung putih, dia tersenyum dan mengangguk hormat.

“Ya, kami dari Britain,” ucap  nya lembut. Aslam masih terlihat panik, dia menggaruk-garuk jenggotnya takut tiketnya putus dan dia harus membayar lagi untuk terbang ke london.  “Ma’assalamah.”

Tiba-tiba seorang pria mengenakan gamis dan ghutro warna putih datang mendekat, dia pria arab. Mengenakan sepatu bot warna hitam sepertinya dia tahu masalah Rei dan Aslam.

“Kenapa kalian belum cek in ?”

“Tiketku tidak ada di sistem ya Syeikh,” jawab Rei panik.

“Uh, ya coba kulihat,” ucap  nya pada Rei, Aslam datang mendekat menjelaskan permasalahan yang sama. “Masalahku juga sama, kami bertiga dengan anakku, dan besok pesawat kami terbang ke London.

“Aku dari perusahaan yang mengelola Bandara, aku prihatin dengan kalian. Ini memang akhir ramadhan, memasuki Syawal, banyak yang pulang umroh dan harus mengantri jadi tenang saja, mereka tidak akan menelantarkan anda,” pria itu menepuk Rei dan Aslam, “Kalian tamu Allah, jadi berdoalah….lagipula sudah banyak kejadian seperti ini seperti, biasanya maskapai tetap menerbangakan anda dan mencari solusinya di Amman..”

“Ya, terimakasih,” ucap   Rei, dia membalas jabatan tangan pria itu, Aslam juga. Sedikit lega ada harapan mereka bisa tetap pulang, kalaupun tidak terkoneksi mereka tetap akan dicarikan tiket pengganti.

Mereka berdua duduk kembali di kursi, mengharapkan ada panggilan dari petugas yang bekerja di konter tiket. Mereka juga hanya operator, bukan dari perusahaan penerbangan, satu per-satu penumpang terakhir datang mereka tidak antri karena namanya sudah tertera disana.

Tapi tak ada panggilan, Rei dan Aslam hanya duduk diam. Istri Aslam, namanya Maryam dia membawa Brian bayinya ke ruang untuk menyusui, disana dia mengganti popok, memberi susu. Yang paling menyedihkan Pukul 23:30, mereka mendengar bahwa konter pesawat yang akan mereka naiki ke Amman sudah ditutup. Tulisan yang tertera di depan konter kini berubah menjadi Tunisia, Cairo dan Casablanca. Tidak ada London, Jakarta dan itu bikin kaki Rei dan Aslam lemas

“Hai, brother, “ kata Aslam . “Sedih juga nama kota tujuan kita tidak ada disana. “ Rei tertawa, saat itu dia memang tidak menyangka akan ditunda. Berangkat dari Jakarta semuanya normal saja, kini masalah muncul dan mereka tak tahu pesawat apa yang akan menerbangkan mereka. Rei bangkit dan memberanikan diri bertanya kepada seorang petugas.

“Hai Tuan, bagaimana dengan penerbanganku dan rekanku ke Amman ?”  pria itu mengambil tiket Rei, dia baru ingat rupanya.

“Ya, nama anda belum ada di sistem kami. Silahkan tunggu. ”

“Apakah masih ada penerbangan ke Amman ?” tanya Rei.

“Saya tidak tahu, hanya bekerja berdasarkan data komputer di depan kami,” pria itu tersenyum, dia paham kebingungan yang dialami Rei dan Aslam.

“Apakah ada cara kami  bisa terbang malam ini ?” tanya Aslam.

 

Bersambung ke Chapter 4

 227 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link