Love Live & Smile - Chapter 2 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live & Smile – Chapter 2
Do Not Jump

Love Live & Smile – Chapter 2

“Aku orang Indonesia, Indunisy, kau tahu tidak,” Jawab Rei, telunjuknya menunjuk ke arah timur. “Indonesia.”

“Oh ya dan Indonesia, mudah ditebak. Kau pasti anggota jihadis yang ingin membunuh Yahudi ?” Pria itu menatap Flori, dia terkejut, terlihat dari tatapannya. Sepertinya dia tak menyangka mendapat tuduhan skeptis seperti itu.Lagi pula ini masih pagi, dan dia sedang ingin menikmati ombak laut mati. Rei nyaris mengeluarkan kalimat penuh amarah,tapi dia menahan diri….mendekat ke Flori.

“Pertama, aku anggota jihadis benar. Tapi bukan jihad yang ada di benak para orientalis seperti kamu. Jihadku kami itu  menahan hawa nafsu dan ..oh ya, kau orientalis, sepertinya kau terlalu bodoh untuk tahu bahwa menahan nafsu itu juga termasuk salah satunya tidak poligami, tidak memukul istri, tidak menyakiti wanita. Bahkan  membunuh orang !”

Flori memotong percakapan, merasa sebal, “Asal kau tahu aku bergelar Phd. ilmu politik dari Sorborne anak muda. Jadi jangan kau ceramahi aku.”

“Dengarkan aku lagi, aku jihadis tapi aku tidak akan menyakiti satu hewanpun, apalagi manusia, itu jihad sesungguhnya, menebarkan rahmat. Membunuh Yahudi ? itu kalau mereka memerangi aku, agama dan negaraku Indonesia. Oh, ya  dan kau  punya Phd tapi memilih bunuh diri ? “

Flori mengejap-ejapkan matanya dia mulai berubah, dibantah dan diteriaki seperti itu, Rei sedang mengalihakan perhatiannya dan itu berhasil membuat tekanan darahnya turun, adrenalinnya sudah bereaksi tadi setelah berdebar-debar dan gagal loncat kini dia merasa lebih tenang. Dan pipinya merah, merasa malu.

“Siapa namamu ?” Dia ingin merubah pikiran Rei tentang dirinya. Sadar bagaimanapun pria itu telah mencegahnya bunuh diri.

“Reihan,…call me Rei.”

“Namamu ?” Tanya Rei, suaranya berubah, nadanya rendah dan lembut.

“Aku Floriane, panggil aku Flo,” Flo sudah mau mengulurkan tangannya tapi Rei buru-buru menjelaskan.

“Aku tak ingin menyentuh tanganmu.”

“Oh ya. Aku punya teman Muslim di Paris,” Jawab Flori, dia menarik tangannya.

“Ya, dan muslim yang baik itu tidak akan membiarkan wanita yang pintar, ciptaan Tuhan seperti anda bunuh diri di samping karang laut mati,”

“Kau sombong juga,” jawab Flori, dia mulai tersenyum.

“Aku berpendidikan,”

Really ?”

“Ya aku, Pharmacien,” Rey membusungkan dadanya.

“So jadi kamu bicara Perancis.”

“Inggris, ayo kita pulang Madam, kau kusut sekali, aku akan antar kamu ke rumahmu.”

Flori melihat Rey berjalan menjauh, dia masih diam memandang ke bawah, rencananya dia mau bunuh diri lagi. Tapi kira-kira lima langkah Rey sadar,  wanita itu tidak ingin ikut turun. Pria itu balik ke belakang dan berkata pada Flori sambil tersenyum. “Hei..,” panggil Rei.

“Jadi kau mau bunuh diri Madam ?  Hei, dengar !…Kau salah menilai jihadis, kau salah menilai aku ingin bunuh Yahudi, jangan-jangan kau juga salah menilai dunia yang indah ini ? benar kan ?”

Flo seketika takjub kalimat yang keluar dari pria tersebut, dia belum pernah mendengar kalimat seperti itu seperti marah, menampar dan menggigit otaknya, hampir sama dengan kritik mahasiswa program postgraduate di Sorborne, dia seperti tersihir, kakinya, perasaan dan dadanya seperti ditarik magnet ketika Rey memanggilnya.

Ayo kemari, aku sewa mobil dibawah, Ahmad pasti heran, kenapa aku membawa jin dari laut mati.”

Flo mengedipkan matanya, dia tersenyum ingin tertawa, bibirnya bergerak berkerut, dia berjalan seperti didorong angin mendekati Rey yang lebih dulu turun belok ke kanan, merangkak-rangkak di tumpukan batu warna cokelat kehitaman, dilapisi lumut.

“Ahmad, ahmad,. Min aina .?” Panggil Rei, pria itu ada di samping mobil, sedang merokok  sebatang Marlboro yang berbau menyengat. “Ya, saya disini Rei, Loh siapa di belakangmu,” Wanita itu merangkak turun, tangannya bersedekap menggosok lengannya yang terasa dingin. Dia mengenakan jaket kulit wanita, warna hitam, syal wool warna merah tua celana jins ketat dan sepatu bot hitam.

“Dia, namanya Flo,benar kan pikiranku..dia mau bunuh diri.”

Wanita itu melirik sambil menaikkan alis. “Aku tidak seperti itu ya,” Rei, menaikkan bola matanya, kepalanya mengangguk, sekaligus menggeleng ke arah Ahmad.

“Silahkan duduk di kursi belakang,” itu sedan Toyota Cressida tahun 2000, mobil sedan tua yang kini tidak mengkilat warna putih kecoklatan ditabur debu padang pasir. Sebelum kalimat itu selesai Flo sudah lebih dulu duduk lalu membanting pintu dia tersenyum sekaligus takut, tapi ada perasaan tenang menyaksikan dua pria yang ada di sekitarnya. Rei duduk di sebelah kiri, Ahmad dikanan, dia mengemudi. Memutar, lewat sebuah jalan tak beraspal.

Mereka menuju ke arah Kota. Jalanan dari laut mati menuju ke Kota Amman itu cukup terjal dengan sudut yang tajam mereka pelan-pelan naik lewat jalan bebas hambatan. “Kau tinggal dimana Madam ?” Tanya Rei. “Ahmad akan mengantarkanmu.”

“Hmm, aku di Hotel Grand Hyatt di Amman.”

“Kamu mau pulang kesana atau aku belikan Teh Susu ?”

“Di hotel ada Teh Susu.”

“Harganya mahal,” jawab Rei, dia balik ke belakang. “Hei Madam,kenapa kau mau bunuh diri di Amman, maksudku….buruk pilihanmu,”

Flo menatap heran, dia mengernyit, antara marah dan benci dengan pertanyaan itu. “Hmm, kenapa ya .”

“Kau marah ?”

“Ya, dengan kekasihku…calon suamiku, Ben dia menikah kemarin Di Tel Aviv.”

“Jadi kamu mau bunuh diri di Amman berharap Ben melirikmu, dan dia menghidupkanmu ?”

Flo menatap pria itu lagi, “aneh” Pria itu apakah sedang marah, benci atau menasehati dia. Mungkin karena dia berasal dari Asia, jadi dia tak berekspresi ketika bercakap-cakap.

“Tidak, tapi…hmm,” Flo mengeluarkan sapu tangannya, dia jadi ingat kenangannya dengan Ben, dadanya sesak dia mengelap air matanya yang mengalir di pipinya. Dia terus terang sudah berusaha melupakan Ben, dulu mereka berjumpa di Paris, mereka cepat akrab dan Ben, dia pria mempesona, seorang tenaga pengajar di Universitas Israel di Betlehem, pria berusia berusia 45 tahun, sama dengan dirinya.

Suara tangis, isak tangis terdengar dari jok belakang mobil. Flo menundukkan wajahnya mengelap air matanya dengan sapu tangan miliknya. Rei merasa bersalah dia buru-buru meralat.

“Maafkan aku Madam, aku tak ingin membuatmu menangis,” Ucap   Rei, dia menepuk pundak yang Ahmad melirik lewat kaca spion sadar kalau wanita itu sekarang sesenggukan di kursi belakang. “Kita kemana “ bisik Ahmad yang kebingungan. “Ke Hotel Grand Hyatt saja,” jawab Rei.

“Madam, aku minta maaf,” ucap   Rei, dia sadar sejak tadi lupa membelikan Ahmad air mineral. Dia menunjuk ke sebuah supermaket di depan. “Ahmad, kita berhenti di sana.?”

Mobil mereka berhenti di depan Supermaket, di pojok dekat dengan deretan toko tempat seorang pria tua sedang duduk di depan kursi, dia penjaganya. Pria itu mengenakan topi dan jaket tebal, dia kedinginan ditiup angin lembah pegunungan Jordan. “Assalamualaikum. Kalian mau cari apa ?”

“Walaikumsaalam,” balas Rei. “Air dan anda mungkin punya chips Syeikh ?”

“Ada di dalam, silahkan ambil. “ Rei masuk ke dalam, Ahmad keluar dari mobil, dia kembali menyalakan rokoknya. Dia bukan perokok berat tapi kalau mengemudi keluar kota, dia menikmati lebih banyak rokok. Di dalam Rei mengambil tiga botol air mineral, sebuah potato chips, Cokelat Toblerone, dan sebuah permen mentos.

Flo sadar dia menjadi gangguan, distraksi yang membuat dua pria itu buru-buru meninggalkannya.  Dia ada di kursi belakang, buru-buru mengelap ait matanya dan menekan hidungnya yang terasa dingin.

“Ini uangnya,” Rei menyerahkan uang uang sepuluh dinar pria itu mengembalikan tujuh dinar. Dia memberikan sebotol air itu kepada Ahmad, lalu mengetuk-ngetuk jendela mobil. Wanita itu membuka pintu cukup keras, dan membuat Rei terdorong.

“Hei pelan-pelan,” katanya nyaris emosi,”Ini ada air,..atau cokelat,” Flo melirik ke dalam kantong plastik, dia tak tertarik dengan permen dan camilan, dia berjalan mendekati ahmad di belakang mobil dan minta sebatang rokok.

“Oh, sigaret Madam ?” Ahmad tergopoh-gopoh mengeluarkan sebungkus Marlboro dan memberikan ke Flo. Wanita itu mengambil rokok itu lalu menyalakan api, dia menghembuskan asapnya.

Rei, dia masuk ke mobil duduk di kursi depan. Menyalakan radio, menekan-nekan koleksi CD milik Ahmad, tak ada yang dia kenal, semuanya penyanyi arab yang liriknya bahasa arab. Mungkin habibi, ya habibi kan kekasihku artinya. Kalau yang lain,..waduh, sulit selain kosakata itu dia tak paham. Lebih baik ngobrol pake bahasa Inggris.

Rei membuka sebotol dan minum air, sementara Flo menghirup asap rokoknya, dia menatap mobil truk peti kemas yang lalu lalang di highway menuju ke laut mati, semua berjalan pelan karena jalannya menanjak. Dia masih bingung kenapa hari ini dia harus berakhir dengan orang asing yang menolongnya…dia dari Indonesia dan temannya si Arab ini mungkin dari Jordania.

“Eh, Rei,” Panggil Flo, dia merasa tak enak, canggung dengan kondisinya saat itu. Semuanya seperti menunggu kalimat yang keluar dari mulutnya. “ aku minta airmu.”

“Boleh, ini tangkap,” Rei melemparkan sebotol, dia kembali duduk di kursi depan masih juga berusaha mencari lagu diantara 12 lagu arab dalam pemutar CD merek Blaupunkt itu. “Tak ada yang enak lagu si ahmad ini,” Ucap  nya. “Ahmad, kau tak suka lagu amerika ya ?”

“Aku  suka lagu arab, habibi habibi,” jawab Ahmad, dia kembali menyalakan rokok kedua. Jalan dengan Rei beberapa kali dia minta berhenti dan itu membuatnya kedingingan. Tapi tak apa-apa, dia jadi bisa lebih banyak santai dan merokok. “Huh ya semprul, aku kan tidak tahu artinya,” jawab Rei. Dia sebal juga harus seharian berjalan mendengarkan lagu milik pria itu.

“Siapa namamu ?“ Tanya Flo pada pria arab sampingnya.

“Aku Ahmad,” dia tersenyum ramah. Alis matanya lebat, hidungnya mancung dan ada jenggot tipis di sekitar dagunya.

“Asalmu dari mana ?”

“Arab , sambil menunjuk ke balik bukit. Dibelakang pegunungan itu.”

“Ya, dikota mana ?”

“Jerusalem, Palestina,” Ahmad mengeluarkan sebuah buku kecil, itu paspor Palestina dan memberikan ke Flo. “Di pusat kota.”

“Oh ya, aku percaya,” Flo menghirup rokoknya, kepalanya terasa pening dan daratan itu goyang. Mungkin karena dia hanya sarapan sepotong roti, lalu buru-buru berangkat ke laut mati. Jaket kulitnya mulai terasa berat terkena embun pagi hari.

 

Bersambung ke  Chapter 3

 254 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link