Love, Live & Smile Chapter-15 -
Home / Novel / Love, Live & Smile Chapter-15

Love, Live & Smile Chapter-15

Flori balik ke belakang…dia mencari-cari andai saja  ada Rei, dia tak menemukan siapa pun, dia berjalan masuk ke lorong, masuk ke Garbarata menarik tasnya, di depan pintu pesawat seorang petugas membantunya meletakkan tas di bawah kursi. Kursi nomer empat, deret kedua di kelas bisnis, dia duduk di jendela.

“Silahkan madam,” seorang wanita menyambut Flori, dia duduk dan memasang sabuk pengaman. “Selamat datang di pesawat kami, anda perlu minum apa ?” Flori meminta segelas jus, wanita itu pergi lalu datang dan memberi Flori secangkir jus jeruk dan sebungkus kacang, “Masih lima belas menit lagi pesawat ini terbang,” ucap   Wanita itu.

Flori mengangguk dia duduk menatap keluar, di seberang sana ada satu pesawat yang siap berangkat, dia yakin, mungkin itu pesawat Rei yang akan terbang ke Jakarta, butuh sepuluh jam lagi. Sementara dia memerlukan kira-kira 5 jam lagi, kalau angin bertiup ke barat bisa lebih cepat.

Lalu pengumuman dikumandangkan di pengeras suara pesawat.

“Para penumpang, karena  ada pesawat VIP yang akan mendarat dari Istanbul, langit  di Kota Amman akan ditutup selama 50 menit lagi. Mohon maaf…,”belum selesai pramugari itu mengumumkan suara penumpang lebih dulu berisik, mereka terlihat protes, suara penuh nada kecewa dan kalimat yang. Flori menenggak minumannya, menghabiskan secangkir jus jeruk yang kecut itu. Bukannya dia suka, tapi dia lebih suka turun. “Apakah aku boleh turun ?” tanya Flori.

“Ya, Madam, silahkan turun,” jawab Pramugari itu,”mungkin masih satu jam lagi,” Flori membuka sabuk pengaman dia duduk di deret depan sehingga dia paling dulu keluar dari pesawat, menuju ke Garbarata yang terasa dingin dan menusuk tulang.

Penerbangan di Bandara Amman ditutup selama 50 menit, itu pengumuman yang dia dengar di pengeras suara.. Tapi Flori ingin keluar, dan heran, kenapa dalam hatinya dia ingin mencari Rei…? Flori keluar dari Garbarata, dia masuk ke dalam ruang tunggu dan berjalan menuju ke lorong antar pintu keberangkatan. Ada nomer 13 dan ….dan pesawatnya di pintu 13 dan pesawat Rei …mungkin disana ? dia bertanya kepada petugas.

“Dimana pintu keberangkatan pesawat ke Jakarta ?” tanya Flori pada seorang petugas.

“Itu disana,” ucap   Pria, dia menunjuk ke arah pintu lain, di sebelah kiri. Flori berjalan, cukup jauh karena disana tidak ada conveyor untuk pejalan kaki yang berjalan. Dia melirik ke atas pintu dan melihat penerbangan ke jakarta, pesawatnya masih di parkir di sana. Airbus A321 sama dengan miliknya yang dia naiki. Penumpang di pesawat itu baru saja turun, Flori menatap ke dalam kaca, dia melihat wajah Rei turun dari pesawat.

“Kenapa aku ini ?” ucapnya dalam hati bukannya dia tak suka, tapi dia belum pernah begitu bersemangat setelah diputuskan Ben. Mereka putus satu tahun lalu…Flori menunggu di depan pintu, saat Rei keluar dari pesawat, dia melambaikan tangan kepada Pria itu.

“Rei…Rei.,” panggilnya, cukup keras, petugas keamanan melirik ke arahnya. “Ups, maaf,”  sahut   Flori, dia mendekat ke kaca, sadar bahwa pasti Rei tidak mendengarnya. Flori melambaikan tangannya,”Heii.”

“Rei,” pria itu duduk menghadap keluar, mereka dipisahkan oleh kaca tebal antara ruang keberangkatan dan lorong tempat Flori. “Rei.”

Lambaian tangan itu membuat seluruh penumpang di dalam ruang tunggu melirik dan mencari siapa yang dipanggil Rei, seorang pria bertanya “Siapa, Where ?” Flori menunjuk-nunjuk ke arah Rei, pria dan wanita yang dipanggil itu menyentuh pundak Rei,dan menunjuk ke arah Kaca. Dia terlihat berbisik pada Rei. “Kau dicari,” pria itu menunjuk ke jendala kaca, Flori berhenti melambai.

Rei berdiri, dia awalnya tidak tahu siapa yang memanggilnya, tapi dia sadar itu Flori…Rei segera bangkit dan berjalan keluar dari dalam ruang tunggu itu. Dia minta ijin kepada petugas keamanan yang tertawa melihat Flori yang melambai tadi, Flori menunduk tersipu malu dan pipinya merah.

“Flori ? ..kukira pesawatmu lebih dulu pergi ?”

“Ya, mereka menunda satu jam lagi,” jawab Flori, dia ingin bertanya kau tak ingin ketemu aku, tapi dia bisa mengalihkan pembicaraan. “Ayo duduk di sana.,” Flori berjalan ke sebuah kursi dia sadar bahwa tak ada yang bisa dilakukan selain makan dan minum selama menunggu.

“Kau nekat juga cari aku ,” ucap   Rei. “Hei ada coffee shop, aku mau minum teh,”

37 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link