Love, Live & Smile Chapter-14 -
Home / Novel / Love, Live & Smile Chapter-14

Love, Live & Smile Chapter-14

Flori satu kali  berjumpa Ben di Tel Aviv,  ketika itu Ben menjemputnya di Ben Gurion lalu mengantar Flori jalan-jalan di pantai, Foori ingat ‘Ah, sebuah tempat yang berkesan,’  sore di pantai Tel Aviv, saat matahari akan tenggelam di Barat…disana Ben bilang bahwa dia mencintai Flori.

“Aku cinta kamu,” ucap   Ben, “Aku yakin kita akan terus bersama,” Saat itu, Flori merasa tubuhnya seperti cokelat Black Forest yang meleleh. Dia lumer dan menggenggam Ben erat-erat, dia ingin menjambak rambut Ben, gemas…dan ingin menggigit lengan pria itu. Dia sudah lama memendam rindu dengan Ben, ucap  an cinta di sore hari di atas pasir, aroma laut dan dan matahari yang sendu membuat Flori hanyut terkenang oleh buaian rindu.

Tapi Ben menolak jika Flori ke Tel Aviv lagi “Kita lebih baik ketemu di Paris, atau di Amman,”  kata  Ben. “Disana kita bisa menikmati keindahan kota, aku suka di Paris, Amman, Istanbul.”

Namun perjumpaan itu membutuhkan waktu satu semester- enam bulan,  mereka dipisahkan oleh kesibukan mengajar, meneliti mahasiswa postgraduate yang membuat tesis membuat dua orang itu lupa bahwa mereka berhubungan.

Lalu, Flori dan Ben berjumpa lagi di Kota Amman,

“Ben, ….Benjamin,” nama pria itu, Flori masih menyimpan foto Ben dan dirinya, ketika berkunjung ke Petra, Jordania,  tempat istana batu itu, saat hangat matahari pagi mereka berjunjung kesana, naik mobil Land Rover, lalu naik onta menyusuri lembah dan karang sampai akhirnya tiba di depan pintu gerbang Petra. Flori terpesona oleh keindahan bangunan itu, pilar romawi yang dipahat di tembok dinding menjulang tinggi. Dia merangkul Ben, dan rasanya dunia hanya milik mereka.Rasa rindu yang dia pendam seperti meracuni otak, merasuk ke dada.

“I love you,Je’taime Ben..,” ucap   Flori tak sadar,  beberapa kali dia mengecup pipi dan telapak tangan Ben , dia ingin berkata “Terimakasih kau membawaku ketempat yang indah ini,” Tapi itu tidak cukup, ada desakan dalam hati, dorongan rindu yang mendayu dan merayu pikirannya untuk selalu berhubungan dengan pria itu.

Dia ingin selalu dekat Ben, bertemu sebenarnya sudah cukup, berjumpa dan berjalan kaki di Plaza Amman, mereka masih bisa saling berbagi, menempelkan bahu saja sudah sudah terasa indahnya, saat genggaman tangan Ben pelan-pelan menyentuh telapak tangannya. Flori melirik pria itu…dan Ben dia memang punya wajah mempesona, janggut tipis, dan bola matanya yang besar. Flori tak ingin melepas genggaman tangan pria itu, rasanya telapak tangannya ingin berbicara, ingin memeluk dan ingin mencium kening Ben.

Ada sentuhan listrik yang menghampiri wajahnya untuk selalu mendengar cerita dan argumen Ben, “Revolusi Perancis, kau tahu Antoine Lavoisier,.Lavoisier apakah seorang patriot apakah pengkhiatan ?” Itu yang ada di Benak Ben, dan Flori tak mendengarkan kalimat yang meluncur dari mulut Ben, “Dia , seorang ahli kimia sekaligus rentenir, .dan dia tewas di Guillotine oleh pejuang republik.,” sementara Flori dia pura-pura sibuk menenggak Medium Dry anggur Bordeaux yang terasa kecut, menggigit sepotong keju Cheddar di Sebuah Ala Cafe di Kota Paris yang sendu dia terhipnotis oleh kecerdasan Ben yang mendadak hadir dan membelah namanya.

Khayalan Flori bubar ketika seorang memanggil.

“Madam Floriane ?” itu seorang wanita datang mendekat, dia mengenakan seragam merah tua. Itu Pramugari Royal Jordanian Airlines, dia tersenyum pada Flori yang terkejut, dia kaget, rupanya sedang melamun di ruang tunggu pesawat. “Oui, Merci.”

“Silahkan naik ke pesawat, ayo ikut aku,” Flo, mengejapkan matanya, menatap sekeliling dan berharap…berharap..entah kenapa dia tiba-tiba merasa sedih. Sepertinya dia kehilangan dua orang sekaligus, si Rei yang selalu punya komentar dan….Huh… Ben.

Flo berdiri, bangkit dari kursi dan masuk ke lorong tempat Garbarata yang menuju ke sebuah Airbus A321 warna hitam dan merah tua…Aneh, pikir Flori, karena dia mestinya tak perlu memasukan ke hari dan hatinya si Rei, pria berambut ikal, jenggot tipis, hidung standar, dan jangkung, tingginya mungkin 175 cm, lebih pendek dari dirinya…sedikit. Tapi untuk ukuran orang Asia, dia cukup tinggi dan senyumnya manis, Mon Dieu, senyum Rei sangat menggoda.

Bersambung ke Chapter 15

28 total views, 6 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link