Love, Live & Smile Chapter-12 -
Home / NOVEL SEKAT / Love, Live & Smile Chapter-12

Love, Live & Smile Chapter-12

Queen Alia internasional Airport, terminal keberangkatan berwarna krem, kelabu dengan kesan muram. Flori diantar Rei naik mobil Toyota Cressida putih milik Ahmad turun di depan pintu keberangkatan. Ahmad, si sopir Arab, keriting dan penuh senyum itu tadi nyaris menabrak truk Fuso yang berlawanan arah. Dia menyerempet kaca spionnya ke bemper depan truk. Ahmad  masih mengantuk karena setelah solat subuh langsung menjemput Rei di hotel Alia, hotel transit yang lebih dekat Bandara, lalu ngebut menjemput Flori di Grand Hyatt nyaris di pusat kota, Masih pukul lima pagi ketika Flori turun dari kamarnya, dia membawa satu koper dan naik mobil Ahmad.

Setelah jalan panjang dan hening, mereka bertiga kelelahan. Akhirnya sampai di bandara Internasiona Amman, di teras bandara, seorang petugas dari Royal Jordan mendekati Flori dan memeriksa tiketnya, dia naik kelas Bisnis sementara Rei kelas Ekonomi.Flori memberi selembar tips kepada Ahmad, Rei juga, membayar sejumlah uang dan memasukkan ke dalam amplop lalu memberi ke Ahmad. Dia dua hari di Amman, selama disana dia menyewa mobil milik ahmad, totalnya seratus Dinar Jordan. “Apa yang bisa aku bantu lagi ?” ucap   Ahmad pada Rei.

“Sudahlah Ahmad, Sampai jumpa, kau sudah simpan nomerku kan,” ucap   Rei, dia menunjukkan telepon seluler miliknya. “Ya jawab Ahmad, dia memeluk Rei dan melambai ke arah Flori. “

“Terimakasih Ahmad,” Ucap   Flori, kamu akan masuk ke terminal sekarang. “Aku berutang padamu,”

Mafimushkila, no problem Madam Flori,” Ucap   Ahmad dia berjalan menjauh, sambil tersenyum merasa lega tugasnya sudah selesai. “Maassalamah, Brother,” Ucap   Ahmad, Rei melambai mengacungkan jempol dan mengajak Flori.

“Ayo kita masuk,” ucap   Rei pada wanita itu, pesawatku pukul 07;55 kau mungkin lebih dulu berangkat.

“Aku jam 07:40,” jawab Flori, mereka berdua masuk kedalam ruangan keberangkatan. Di dalam tak ada antrian penumpang, tidak seperti di Soekarno Hatta, setelah mendaftarkan koper ke bagasi pesawat dan menerima pas naik, Rei dan Flori  beranjak dan pindah ke  depan antrian imigrasi. Mereka masuk ke dalam antrian itu, hanya ada dua orang di depan Flori, lalu Rei menyusul masuk area kebarangkatan, setelah paspornya di stempel, di sana ada lorong panjang ke kiri dan kekanan, yang satu menuju ke Eropa lalu satu lagi ke Asia.

Di depan pintu itu mereka duduk di sebuah kursi. Beberapa orang juga menunggu disana. Di depan sebuah televisi dan pemandangan bandara, Pesawat yang diparkir berjejer. Rei menghela nafas, sadar mereka harus berpisah hari itu.  “Well, .,” ucap  nya sambil meletakkan tas ranselnya.

Flori juga tahu saatnya mereka berpisah. “Aku heran kenapa pagi ini aku pulang ke Paris, padahal rencananya aku sudah meninggalkan dunia ini,”

“Hus, sudahlah yang penting kau sampai di Paris, jangan minum Prozac, alkohol dan sudahlah semua kau ganti baru, teman-teman dan kenangan itu,”

Flori menatap Rei, sepertinya yang dikatakan pria itu semuanya benar. Kebetulan? Atau dia memang tahu ? Flori sadar , dia memang menyimpan tablet antidepresan di kantong bajunya satu botol Prozac bersisi tigapuluh tablet yang setiap hari dia minum, lalu dia juga akhir-akhir ini kecanduan Cognac dan Johnie Walker, itu yang membuatnya hidup sepanjang hari. Mabuk antar hari, selama …kira-kira tiga bulan terakhir karena pernikahan Ben semakin dekat.Dia buru-buru menjawab Rei  

Flori kaget karena dia cukup lama diam, dan Rei juga diam melotot di depannya. “Omong-omong, Terimakasih Rei, aku tak tahu apa yang terjadi di masa depan,” Rei tersenyum.

“Sudahlah Flo, pokoknya jangan mati ! kau kan  dosen kau bisa pulang cerita dengan mahasiswamu bahwa kau bertemu dua orang di Jordan. Itu cukup menarik untuk kuliah dua sks,” jawab Rei. Dia mengangkat tangannya seperti orang yang sedang berdoa.

“Ya, mungkin benar. Anyway, aku berangkat dulu ke ruang tunggu Rei. Aku tak suka terburu-buru,” Flori menyibakkan rambutnya pagi itu dia mengenakan lipstik Beige milik Clinique, pemerah pipi Loreal, dia segar dan berseri.

“Oh ya sebelum lupa,  ini aku belikan kau cokelat Toblerone kemarin malam di Supermaket,”

 

Bersambung ke chapter-13

59 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link