Love, Live & Smile Chapter 11 -
Home / NOVEL SEKAT / Love, Live & Smile Chapter 11
Couch

Love, Live & Smile Chapter 11

“Aku sok tahu ? Kau hanya mengujiku Nona Flori. Aku membaca, banyak membaca dan itu membuatku sampai di Jordan.” Rei duduk mendekati Flori, meski menjaga jarak kira-kira satu meter.

Di sudut kanan Ahmad sedang bicara di telepon genggam miliknya. Rei sekilas mendengar percakapan Ahmad, dia menceritakan masalah dengan dua orang pria yang mau memukul Flori dan Rei.

Rei melanjutkan.  “Hei Flori,  kita dulu asalnya dari ledakan big-bang,  kita dulunya mungkin satu. Maka kita pernah jadi bintang, planet, dan kini terpisah oleh ruang dan waktu. Tapi, entah kenapa kita dipertemukan disini…disini Oultrejordain, Kota Amman tempat yang asing buatku. Kau mungkin bilang ini bukan takdir, tapi ya sekarang itu takdir. “

Flori tersenyum dia menatap Rei dan berkata dengan nada datar. Dia menjelaskan kenapa di ada di Jordan hari itu.

“Gara-gara Ben, dia menghianati aku setahun yang lalu dia selingkuh dengan Sharma, seorang gadis India yang kerja di Bank of Israel, di Tel Aviv, aku memergoki pesan-pesannya tahun lalu, tapi aku percaya mereka baik-baik saja. Akhirnya aku tahu mereka semakin sering bertemu, huh  puncaknya,” Flori menarik nafas, dia mengisap rokoknya.

“Puncaknya, Ben datang ke Paris dan minta kita putus,ia bilang aku dan dia sudah selesai.dan dia bilang tak punya rencana masa depan denganku.”

Rei menatap wajah Flori, pipi wanita itu kemerahan, dia terlihat lelah, ujung matanya yang sayu, bola matanya yang biru. Tubuhnya yang  condong ke depan. Dia mungkin ingin menangis lagi, tapi wajahnya serius, mulutnya agak monyong dan dia masih memegang rokok yang dia letakkan lagi di bibirnya.

“Well, sangat menyedihkan,” Ucap   Rei. Dia melirik Ahmad yang murung, dia tidak menyalakan rokok lagi. Mendengarkan Flori.

“Ahmad, mungkin sudah berkeluarga dan dia bosan mendengarkanmu Flori,” tanya Rei.

“Hei Rei,” potong Ahmad. “aku kan prihatin Flori mau bunuh diri,” Jawab Ahmad.

“Aku juga,” jawab Rei,”Tapi dia mungkin punya pilihan itu.”

Flori ingin menunjukkan perasaan sebalnya pada Rei, bukankah Ahmad lebih empati. Tapi dia malah bilang. “Ah sudahlah, Aku merasa lebih baik sekarang, dengan kalian di sini. Omong-omong besok bisa antar aku ke bandara besok ?”

“Ya,” jawab Rei aku dan ahmad akan mengantarmu, sampai bandara dan Au Revoir, aku ke Jakarta…kau ke Paris,”

“Omong-omong malam ini makan  dimana ?” tanya Flori.

“Aku mau Nasi Arab setelah itu tapi malamnya mau tidur di hotel.,” Jawab Rei.

Ahmad menjawab “Aiwa. ..yeah,” Sambil tertawa, Rei tersenyum, memandang ke arah Flori yang mulai berubah. Flori, dia mulai tersenyum dan wajahnya yang tadi pagi kusut pelan-pelan mulai segar kembali.

Malam itu, di pusat Kota, Ahmad mengajak mereka makan di rumah makan di samping sebuah mall, sebuah warung dengan menu kambing dan nasi arab yang khas :  bau minyak samin dan jinten.Rei menikmati makan malam bersama Flori dan setelah dua piring yang berlebihan, mereka pulang.

Bersambung ke chapter 12

 128 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link