Love, Live & Smile - Chapter 1 -
Home / NOVEL SEKAT / Love, Live & Smile – Chapter 1
Woman in Cliff

Love, Live & Smile – Chapter 1

“Flori, kau dimana ?” Wanita itu kadang dipanggil Flori tergantung lidah mana yang suka. Di Perancis Utara rekannya memanggil Flori karena dia memang cantik, seperti bunga poppy yang beracun tapi mengobati. Floriane Adeline tidak suka dipanggil Adel, hmm  ..kalau aku tidak suka ya tidak suka saja kan ? katanya protes. Flori sedang ditelepon Emma, di depan Gare Du Lyon, Stasiun besar di Paris. Emma baru saja pulang kuliah dan mengajar, dia menelepon Flori karena biasanya mereka pulang berdua dan Flori, sudah lima hari menghilang. Para dosen di kampus sudah bertanya pada Emma, apalagi Pak Profesor, “Apakah kalian tidak ikut wild party lagi ?” Emma melotot ketika Profesor Guillame berambut putih itu meliriknya. Dia tahu Profesor ini memang suka cari info dari mahasiswi tentang pesta akhir pekan yang kadang terlalu brutal.

Tapi pagi itu Flori merusak mood Emma.

“Semua berahir Emma, aku sudah tidak ingin hidup lagi,” jawab Flori, nada suaranya berbeda.

“Sial, kau mau bunuh diri ?” tanya Emma, “Aku tak akan melarangmu Flori. Tapi nasehatku sebaiknya kau tunda setelah ujian. Dan ingat namamu masih paling terkenal di Fakultas Ilmu Politik di Sorborne. Aku tak tanggung jawab nanti arwahmu penasaran ikut ujian di kampus,”

“Halo…halo.,” tapi telepon keburu ditutup. Emma mendengar suara klik, diikuti pengumuman itu keretanya yang akan mengantar pulang ke Apartemen dari Paris Metro, dia mengangkat bahunya. Emma menelepon balik dan mendengar bunyi tut tut tut, Flori memang sudah mematikan teleponnya. “Mon Dieu,” katanya keluar dari mulut Emma, seorang wanita tua disamping Emma mengangkat tangannya, protes dia menghalangi langkahnya.  

Floriane, rambutnya cokelat, pirang. Ikal dan  dia sudah naik ke sebuah bukit karang, tadi pagi naik taksi, dia jalan dari bawah, tingginya kurang lebih 50 meter, butuh waktu empat puluh menit,  naik ke atas karang dia bisa melihat Pegunungan Israel dan Palestina di bawahnya dia melihat laut, ombak memecah karang cukup membuat kepalanya pecah dan tidak bangun. Mati bunuh diri, lalu pemerintah perancis akan membawa mayatnya ke Paris. Mayatnya, mungkin kepalanya pecah, tulangnya patah, semua akan baik-baik saja diurus oleh uang pajak.

Dia memasukkan teleponnya di kantung sebelah kanan, Flo memejamkan mata pelan-pelan melangkah, satu, tubuhnya bergetar dan mengggil, seandainya dia tidak mati hanya patah tulang ini jadi mimpi buruk. Dia menahan nafas antara maju dan terus, di pinggir tebing yang curam itu laut terlihat membentang. Warnanya abu-abu tua, sama seperti mendung..Kepalanya mulai berputar dan kakinya terasa ngilu,

Jangan berhenti. Padahal dia sudah menyiapkan rencana ini sejak lama. Langkah kedua membuat hatinya bergemuruh, bukan, itu detak jantung dug dug dug dan ada keringat dingin menetes di pelipis. Tubuhnya terayun kedepan, dia mendengar derak batu, pasir yang berjatuhan…iii, dia ingin teriak. Tapi dia belum jatuh. ….tiga.

Dia sudah diujung tebing, pasir dan batu jatuh ke bawah, siap dtiup angin bertiup kencang menyeret sepatu Nike miliknya bayangan di kepalanya berputar, membenci lagi wajah pria itu. Ben, yang kini menikah …dan dia menkhianati aku.  Flori mulai menangis, lagi, dia depresi masih minum Prozac dan Zoloft tak bisa menghentikan banjir kenangan yang timbul tenggelam di memorinya. “Ben,…jangan tinggalkan aku.,” itu harapannya dan  mimpi. Ben tetap menikah dengan wanita lain.

Tubuhnya sudah mau melangkah ke dean tiba-tiba ada sebuah tangan menarik lengannya, suara seorang pria yang nyaris berteriak. Tangan itu menarik dan menggenggam lengan kanannya erat-erat.

“Hei kau gila,” pria itu memegang lengan Flo, “Do you Crazy ? Hei..,” pria itu menarik lengan Flo, kencang dan membuat dia meringis. Flo membuka matanya, dia melihat seorang pemuda asia, anak  muda “Ah memang orang asia kan lebih kelihatan muda,” dia sedang melotot, meracau dan menasehati dirinya. Flo mengibaskan lengan tangannya, dia sadar seandainya tadi dia jatuh jaketnya belum ditutup.

“What are you doing ? such a beautiful place,.you ruined my holiday,” apa yang kamu lakukan, kamu merusak acara jalan-jalan aku. Sepertinya itu yang dikatakan oleh pria itu, Flori tidak jelas mendengar pria itu, dia tidak fokus dan saat itu angin bertiup cukup kencang. Suhu disana lima derajat celsius, dingin dan menusuk tulang. Hampir tak ada yang berenang di laut mati, kecuali beberapa orang pensiunan, turis Cina atau Eropa Timur yang salah pesan tiket, datang kesana ketika musim dingin.

“Biarkan aku sendiri.,” Flori membentak melawan pria itu. “Aku ingin mati.”

“Kau tidak bisa mati jika ada aku. Aku akan menjagamu sampai kau pulang kerumahmu,”

“Huh, aku tak kenal kau, anak muda,” jawab Flori, dia melangkah mundur siap lari maju dan untuk melompat, tapi hanya untuk terjerembab karena dia ditabrak oleh pria itu. Brakk,..tubuhnya terdorong, jatuh terhempas dia meringis kesakitan, pinggangnya didorong tubuh pria itu ke samping hingga terjerembab jatuh di atas batu sedingin es batu.

“Aduh, aku sakit bodoh,” Flori kembali membentak.  Dia bergeser, merangkak menjauh dari pria itu, dia memegang lengan kirinya yang sakit, sadar bahwa pria itu juga kesakitan, tangannya terjepit perut sebelah kirinya.

“Kau gila ya ? Aku tak akan  membiarkanmu loncat dari pinggir tebing ini, sampai akhir zaman aku akan tetap disini,” Pria itu berdiri, dia tadi terjerembab di samping Flori, dia jongkok di depan Flori. Wanita itu diam, dia menghela nafasnya berusaha mengatur emosinya, antara marah sebal dan …dan dia ingat lagi masalahnya dengan Ben, kekasihnya.

“Aku, tak ingin hidup lagi anak muda,” ucap  nya Ketus. “Hidupku sudah selesai,”

“Hei ganti kalimatmu…Hidup ini indah! Kau seperti menyiram otakmu dengan racun,” Pria itu sepertinya panik sambil membentak.

Ganti kalimatmu,…Live is beautiful, live is beautiful,” Bentak pria itu lagi .

Flori sadar pria itu tersenyum padanya, tulus dan  senyumnya menawan, dia berkulit cokelat tua..mungkin dia orang Malaysia, atau Afghanistan

Flori sadar pria itu tersenyum padanya, tulus dan  senyumnya menawan, dia berkulit cokelat tua..mungkin dia orang Malaysia, atau Afghanistan atau Philipina. Mengenakan syal merah tua, ghutro, serban arab dikalungkan di leher, dia mungkin kedinginan.

“Ayo aku antar pulang,” ucap   Pria itu. “Kalau tidak,  aku akan mengangkat tubuhmu sekarang,” Pria itu bangkit siap untuk mengangkat tubuh Flori yang mulai menggigil kedinginan.

“Hei, jangan….stop stop,” Flori buru-buru berdiri, dia menepuk-nepuk celana jins bagian belakang. “Aku baik-baik saja tak perlu kau gendong,”

“Tadi katanya  kau mau bunuh diri. Bagaimana bisa kau bilang kau baik-baik saja,” jawab Pria itu.

Flori menggelengkan kepalanya, “Kamu mengganggu urusanku, itu privasiku Monsieur.”

“Mengganggu ? itu yang kamu tangkap ya ? Hei dengar Madam, aku menolongmu, ….menolongmu. Sumpah, kalau kau tidak mau ditolong aku akan pergi biar kau mati disini,”

“Hei, kenapa kau membentakku. Kau orang mana ? Asia Tenggara kutebak kau dari Philipina, Malaysia, Singapura, Afghanistan ?”

Bersambung ke Chapter 2

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link