Love Live and Smile Chapter-7 -
Home / NOVEL SEKAT / Love Live and Smile Chapter-7
Couch

Love Live and Smile Chapter-7

Oui, Halo.”

“Ya, ini aku,” itu suara pria.

“Siapa ?”

“Heii ! Ini aku Rei,” itu pria Indonesia yang tadi membantunya. Flori kaget, terkejut dan tiba-tiba dia ingat jika masih sebal kenapa pria ini menghubunginya.

“Kenapa kau telepon ? katanya aku kau biarkan istirahat,”

“Aku punya pikiran. Kalau kau mau bunuh diri lagi.”

“Huh, aku kan baru masuk kamar. Kenapa kau memaksaku ?” Flori melepaskan jaket hitam den menggelar di atas ranjangnya. Dia melepas sepatunya yang terasa agak sempit karena kakinya dilapisi oleh kaos kaki tebal. Rei berkata lantang, di seberang telepon.

“Kau pasti masih punya kenangan dengan pria itu ..Siapa Ben ? Sebaiknya kau buang sekarang. Foto, surat cinta dll….di wc.”

“Apa urusanmu Mister ?”

“Lakukan saja, atau kau tak akan habis mengingat kenangan buruk itu.,” Jawab Rei.  Telepon ditutup Flori mengejap-ejapkan matanya. “Huh, kenapa dengan foto Ben ?” tapi Rey benar, dia memang menyimpannya di dalam tas. Sial, dan dia berharap Ben menerima tas itu, Flori berharap setelah dia mati Ben menerima foto dan surat-surat cinta yang kumal diikat karet.

Flori, mendekat ke arah koper di sebelah televisi, udara hangat mengalir melalui penghangat di atas kepalanya, dia membuka koper dan memeriksa semua bajunya, ,masih disana. Lalu ikatan foto dan surat itu ada ditumpukan paling atas.

Flori bingung, kalau dibuang, jadi harus dibuang dimana ? Flori menyobek amplop dan foto itu, lalu mencari-cari, dimana tadi kantong sampah yang dia gunakan. Dia membuka tempat sampah di samping ranjang.

Tutt, tuut, telepon berdering lagi,…jangan-jangan pria itu paranoid, pikir Flori. Sambil melirik ke arah telepon, empat kali dan lima kali, dia mendekat lalu mengangkat gagang telepon.

“Sudah kau buang ?” Itu suara Rei lagi.

“Ya, aku sudah menyobek surat dan foto itu. Rasanya lega. Puas Moonsieur ? ” Flori, dia ingin bilang begitu tapi dia diam saja.

“Maaf Rei, aku mau mandi dulu. Katanya mau makan siang ?” tanya Flori.

“Al-Baik, KFC, semua fast food. Aku mau solat dulu setelah ini kita ketemu di Lobi,” telepon ditutup sepertinya cukup keras karena bunyinya membuat Flori menjauhkan gagang dari telinganya.

Flori menatap gagang telepon krem bertulis Phillips, dia meletakkan diatas telepon lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dari luar, sayup-sayup Flori bisa mendengar suara azan, duhur siang hari diatas Kota Amman memanggil umat muslim untuk datang ke Masjid. Flori mandi, menyiram kepala dan tubuhnya lalu dia segera berpakaian. Masih ada beberapa menit lagi, “Kenapa aku buru-buru ?” pikirnya. “Bukannya para jihadis itu sekarang masih sembahyang di Masjid ?” Flori berkumur Listerin, setelah beberapa kali mulutnya terasa pedas. Dia meminum sebotol Evian yang masih di segel.

Dia menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambutnya, lalu merapikan pipi dan bibirnya. “Jadi aku sudah selesai.,” dia juga heran, kenapa sekarang aku masih hidup ? bukankah rencananya sudah jelas, pagi ini dia mati, siang ini ditemukan oleh polisi atau turis, lalu sore di otopsi, mungkin besok mayatnya sudah dibawa ke Paris naik pesawat sore. Dan Ben….Ben mungkin sudah menerima surat yang dia kirimkan lewat pos.

Flori sadar bayangan Ben mulai lagi datang menggodanya, tadi saat   ada Rei dan Ahmad, bayangan itu hilang, dia tak ingat Ben, dia sibuk bercakap-cakap membela diri. Lagipula mereka baik, tak seperti yang dibayangkan olehnya, para jihadis, pemerkosa, pecinta harem,  ..kalau mereka mau perkosa aku kan sudah bisa tadi di pegunungan antara Bandara dan Laut Mati.

Rei, malah berusaha menyelamatkan dirinya.

Flori turun dari lantai atas, di bawah, disamping lift seorang pria yang menjadi supervisor bertanya kepadanya “Ada yang bisa saya bantu ?”

“Mana teman-temanku tadi ?”

“Oh mereka solat, di belakang, sebentar lagi mereka kembali.”

Flori mengenakan celana jins, warnanya biru muda, kaos putih dan sweeter hitam, dia tidak memakai tutup kepala rambutnya yang keemasan, memiliki poni di bagian tengah, ikal tergerai. Dia terhenyak duduk di sofa empuk itu menyaksikan Rei, sudah minum kopi, beberapa potong macaron dan nastar yang berkurang. “Jadi dia sudah makan kue,” Flori menatap ke seberang kursi ada seorang wanita mengenakan abaya, dia terlihat sibuk menyaksikan televisi. Wanita itu mungkin menunggu suaminya dia mulai bisa paham jika waktu solat, para pria banyak yang meninggalkan pekerjaan.

Beberapa menit, Flori sudah mau tidur lagi, dia kaget ketika dua orang yang dicari itu muncul.

“Hei Flori,” …..

Bersambung ke Chapter-8

215 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

One comment

  1. alhamdulillah udah sampai chapter 6
    semangat Kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link