Kereta KRL Bukan Zaman Jahiliah -
Home / Kolom Opini / Kereta KRL Bukan Zaman Jahiliah

Kereta KRL Bukan Zaman Jahiliah

Dulu kereta KRL Commuterline seperti zaman jahiliah, tahun 2001 ketika saya kerja di Jakarta saya pernah naik kereta ini dari Bekasi ke Dukuh Atas, keretanya tidak ada pintunya, kacanya pecah dan di dalam kereta saya ditemani pedagang ayam, pedagang nasi bungkus dan di tengah gerbong ada pengamen yang menyanyi.Ketika berjalan di samping Rel ada bangunan liar, kawasan kumuh  yang nyaris menyentuh kereta. Sekarang sepanjang rel nyaris ditutup pagar jadi  tak ditemukan suasana itu lagi.

Tahun 2019, KRL Commuterline yang saya naiki sekarang jauh berbeda, Stasiun Klender tempat saya naik sekarang sudah modern, lantai dua dan untuk naik kereta kita bisa membayar dengan kartu e-money, flash dan lain-lain. Kalau anda tidak punya kartu uang elektronik, anda bisa beli tiket diloket, tarifnya  Rp.10.000 untuk jaminan kartu (yang bisa dicairkan kalau sudah sampai tujuan) ditambah tarif antara Rp.3000-Rp,4000  sampai tujuan disekitar Kota Jakarta.

Yang bikin nyaman adalah suasana tertib dan teratur, kecuali saat jam berangkat dan pulang kerja kepadatan akan timbul namun secara umum KRL bisa memberi kenyamanan dan keamana kepada pengguna kereta di Jakarta. Di setiap stasiun akan ada pengumuman yang menjelaskan stasiun mana, dan pintu sebelah mana yang terbuka. Kadang masinis juga memberi tahu jika kereta berhenti karena ada persilangan.

Ini dua video ketika saya coba naik kereta dari Stasiun Klender ke Palmerah,  dan Jakarta Kota ke Klender :

 

 193 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link