Kartunis Berbahasa Perancis -
Home / CERFAR / Kartunis Berbahasa Perancis
kartunis

Kartunis Berbahasa Perancis

Kartunis : Foto Ilustrasi

Siang hari pada pertengahan April 1927 “Perkenalkan namaku Remi,” ucap Pria itu, ia mengenakan jaket dan celana wol. Dibalik pakaiannya itu ia mengenakan kemeja putih, katun. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita yang menjawab tersipu-sipu. “Namaku Germaine.” Ratusan orang disekitarnya tak memperhatikan mereka berdua ketika sebuah pesawat bermesin tungggal dipiloti Charles Lindbergh- penjelajah dunia- mendarat di Bandara Brusel. Siapa Remi ? Siapa dia ?

Namanya Georges Prosper Remi, Lahir di Etterbeek, 22 Mei 1907 seorang komikus kebangsaan Belgia. Dia bukan siapa-siapa saat itu. Hingga pada Tanggal 10 Januari 1929 di Majalah Le Petit Vingtieme, halaman anak-anak pada harian Belgia. Petualangan Tintin pertama pertama kali diterbitkan. Herge adalah pengucapan akronim R.G kebalikan dari George Remi, (G.R) dalam bahasa Perancis. Herge mempelopori komik yang menggunakan metode garis terang (Ligne Claire) yaitu menggambar dengan garis tebal dan warna yang terang, dikombinasi latar yang realistik. Selain Tintin, ada karakter Kapten Haddock yang suka protes dan anjingnya yang putih bernama Milo/= Snowy. Profesor Lakmus/=Kalkulus yang jenius namun kurang pendengaran dan sangat mencintai dua sahabatnya itu. Ada lagi Dupond brothers/ Thomson dan Thompson dua detektif yang membayangi Tintin dan Kapten Haddock. Bersama Herge dan Tintin kita bisa berkunjung ke tempat-tempat eksotis di seluruh dunia beserta karakter penduduk negara tersebut.

Tintin berkunjung ke Cina-Jepang, dalam Lotus Biru, sebuah kisah yang terinspirasi dari insiden Manchuria selatan ketika jalur kereta api yang yang terjadi di Mukden dibom oleh opsir junior jepang. Militer jepang menuduh Tiongkok melakukan ini. Insiden yang memulai peristiwa perang Jepang dan Tiongkok.

Penculikan Kalkulus adalah kisah lain yang berlatar belakang perang dingin antara Rusia dan Amerika di Jerman. Tintin berkunjung ke Mesir dalam kisah Cerutu sang Pharaoh, Rumania pada Tongkat Raja Ottokar, Tintin di Amerika,Tintin di Rusia, hingga berkunjung ke Indonesia pada Penerbangan 714. Tokoh-tokohnya inspiratif dibuat detil dan sangat sesuai dengan kondisi ceritanya. Tentu, setiap kisahnya terinspirasi dari kejadian yang terjadi di masa itu. Ia menulis dan melukiskan Tintin hingga akhirnya di Wouwe Saint Lambert Belgia, pada 3 Maret 1983. Herge meninggal di usia 75 tahun. Herge adalah penulis dan komikus berkebangsaan Belgia yang sangat terkenal dengan karyanya itu : Petualangan Tintin.

Tak ada yang membenci Tintin, Pembaca komik ini : anak muda, tua, dewasa terbius oleh Herge yang memberi pesan bahwa petualangan dan perjalanan hidupnya sangat indah untuk dibagikan. Tintin secara halus menjadikan jembatan pengetahuan kepada generasi yang akan datang dengan cara yang elegan, menjadi inspirasi bahwa kebaikan pada akhirnya selalu menang.

Siang hari itu tanggal 7 Januari Tahun 2015. Ada sebuah kejadian “Hai Charb… Apakah kau sedang risau dengan ancaman surat dari para teroris itu ?” tanya Tignous kepada editornya Stephane Charb. Ia duduk di mejanya membuka-buka pos-el yang terdapat dalam kotak sampah. Kopi panas aroma dan asapnya mengepul di sekitar meja. – itu bau kopi bercampur bau kertas dan karpet – tercium di dalam ruangan sempit itu. Siang hari pukul 11:00 Waktu Eropa, cuaca masih cukup dingin di Kota Paris. Matahari malu menatap di balik awan kelabu. Suasana kantor masih penat oleh bayangan liar liburan akhir tahun, para wanita, botol Cognac, Champagne dan pesta sampai pagi. Di luar para kartunis bercakap-cakap, sedang berdiskusi tentang kebijakan Presiden Sarkozy, “Kau dengar pertanyanku Charb… eh Stephane ?” suara itu terdengar memaksa. Ia duduk di depan meja milik editor senior itu. Menanti jawaban.

Oui, j’ai entendu ya, maaf pikiranku sedang tidak disini. Baiklah letakkan di meja,” perintahnya kepada kartunis itu. Beberapa gambar rencana kartun yang akan dipublikasikan. Tignous, sang kartunis keluar dari dalam kantornya merasa dirinya tak diperlukan lagi.

Lalu sekonyong-konyong suara keras terdengar di pintu depan, dua orang mengenakan jaket hitam, bertutup kepala mengenakan masker. Mendobrak pintu diikuti suara tembakan, suara kalashnikov yang membabi buta. Muntahan peluru keluar dari dalam moncong AK 47, ditembakkan oleh dua orang, berondongan peluru itu mengenai meja, kulkas, kertas dan tubuh para kartunis yang terkejut. Mereka merangsek masuk ke dalam ruang lain. “Hai…rasakan pembalasanku,” kata Pria itu kasar. Ia melepaskan tembakan ke tubuh Charb yang baru saja akan keluar, berdiri di balik meja kerjanya.

Dor….ia terjatuh, tubuhnya terbaring dilantai, ia melirik ke arah tumpukan kertas, diantara genangan darahnya yang berwarna merah. Itu tumpukan kartun yang tak berguna. Ketika nyawanya meregang, menyaksikan pria yang menembaknya, orang itu sekali lagi melepaskan peluru ke dadanya.

Hari itu di kantor majalah Charlie Hebdo, sebuah majalah satire, di Perancis, beraliran kiri, diserang oleh dua orang. Mereka para kartunis, seorang ekonom, Cabu, Stephane, Tignous, Wolisnki, …. 12 tewas, 5 orang luka berat. Dua diantara orang tewas tersebut adalah polisi, salah satunya Muslim.

Lalu ada “Je Suis Charlie” Joachin Roncim seorang desainer grafis membuat gambar yang memuat tulisan tersebut., saya charlie, dan slogan ini untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan terhadap korban penembakan tersebut. Maknanya luas untuk kebebasan berpendapat, dan kebebasan pers. Tagar tersebut dicuit tanggal 8 sampai 9 Januari sebanyak 5 juta kali. Diikuti pawai di Kota paris dan beberapa lagi demonstrasi yang sejenis. Charlie Hebdo menghentak dunia, penembakan yang dilakukan oleh dua orang imigran tersebut membuat solidaritas pers mengental.

Je Suis Charlie, tapi mereka mungkin tidak pernah belajar kepada Herge, bagaimana ia mengambil hati para pembaca, membuatnya menjadi hiburan dan pelajaran. Menjadi perekat orang tua dan anak yang berkunjung ke toko Buku. Di sebuah bangunan yang bernama Gunung Agung di Kwitang atau di Toko Buku Gramedia di Matraman. Tintin jadi kenangan indah, karakter Herge yang sederhana, jumawa dan penuh semangat itu, Tintin, selalu mendapat tempat di hari setiap pembacanya.

Tapi bagi para kartunis di Charlie Hebdo,  siapa saja bebas berpendapat, bebas menggambar : saatnya mereka belajar bahwa perbedaan antara kasar, menghina, pelecehan dan satir setipis kulit bawang. Stephane dan kawan-kawan menukar nyawanya karena sebuah kertas, pensil, sketsa, majalah. -konyol dan tak adil melihatnya mati- tapi bagi sebagian yang lain. Mereka memang layak dibunuh, toh pertempuran tak pernah selesai. Jihad berkumandang ketika dua orang yang kecewa itu membela Nabi Muhammad SAW, padahal ketika beliau dikatakan penyihir dan penyair, beliau tak pernah marah dan balas membunuh. Beliau membiarkan ayat-ayat Tuhan : Al-Quran, yang menghukum dan membuktikan, hal itu menjadi rahmat, kasih sayang bagi alam semesta saat budaya barbar  melekat di kepala para kafir Quraisy di tengah gurun yang sarat kejahatan. Entahlah, mana yang benar.

Tapi setidaknya bagi Herge, Tintin pasti selalu menang….tentu masih banyak sabar dan maaf untuk seluruh penduduk dunia ini, tak terkecuali.

249 total views, 6 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link