Kamu Mau Menikah Dengan Apoteker ? Baca dulu ya. -
Home / RECEH / Kamu Mau Menikah Dengan Apoteker ? Baca dulu ya.
Mau Nikah dengan Apoteker ? Bernadimalik.com

Kamu Mau Menikah Dengan Apoteker ? Baca dulu ya.

Emang enak sih punya pasangan apoteker tapi ya namanya kehidupan itu ada pasang surut, ada bahagia ada susah semuanya jadi bumbu kita mengarungi kehidupan. Lantas  jika ternyata calon kamu seorang apoteker, apa sih akibatnya :

  1. Kamu beruntung banget pasangan kamu itu pinter, kuat dan tangguh kerja keras. Hanya sedikit orang yang lulus pendidikan profesi apoteker. Sarjana S1 ditempuh selama 5 tahun lalu kuliah profesi apoteker 2 Tahun, cukup lama betah di kampus. Kegiatannya padat, mulai kuliah, praktikum, membuat laporan, asistensi, ikut seminar. Belum lagi hapalan yang sangat banyak semua itu membuat apoteker menjadi manusia yang tangguh.
  2. Mereka Para Apoteker biasanya Religius.Ya, bagaimana tidak religius ketika lulus profesi apoteker mereka disumpah di depan para pemuka agama, di depan ketua organisasi profesi. Mereka bertanggung jawab bukan kepada atasan, pimpinan, kepala/manusia tapi kepada Tuhan yang kelak meminta pertanggungjawaban kepada sumpah mereka. Isi sumpah Apoteker itu salah satunya mewajibkan apoteker bekerja untuk bidang kemanusiaan tanpa pamrih/ memandang kepentingan golongan tertentu.
  3. Mereka paling Banyak Wanita.*Tepuk tangan, gelar apoteker itu di dapat setelah menempuh pendidikan di dunia yang paling banyak wanitanya. Contoh di angkatan saya 100 orang wanita, hanya ada 10 orang pria. Jadi nggak usah heran kalau ada teman pria yang kewanita-wanitaan atau wanita yang kepria-priaan. Nggak usah heran kalau teman mereka itu semuanya perempuan, ketemu di reuni ya perempuan, ketemu di jalan ya perempuan.
  4. Nggak usah Minder dengan Gelar Apoteker. Manusia itu sama saja kok, Apoteker yang cuman gelar saja. Di rumah tetap saja makan nasi pake lauk, butuh sandang, pangan, papan. Kalau kamu Minder dengan gelar apoteker ya rugi, karena apoteker sendiri mungkin gak pernah merasa tinggi, mereka justru merasa terbebani dengan profesi mereka yang kadang di gaji kecil. Ingat bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, mungkin gelar apoteker itu tinggi tapi tetap saja ada kekurangannya misalkan : sulit bergaul, jutek, kaku, dll. ..dan beruntung kekurangan itu diututupin oleh kamu.
  5. Apoteker itu mandiri, bisa buka usaha sendiri. Paling tidak apoteker itu punya niat besar untuk punya apotek, usaha yang gak ada matinya kalau dikelola secara profesional. Disamping menghasilkan uang apotek itu ladang kita untuk berbuat baik, membantu orang yang sakit apalagi mereka yang gak mampu. Hitung-hitung beramal setiap hari kan, bisa buat apotek di rumah, di garasi, membantu tetangga, atau di lokasi yang kamu miliki. Selain jadi pemilik usaha, apoteker juga bertindak sebagai penanggung jawab dan harus terus hadir di apotek.
  6. Apoteker pasti mendidik anak mereka dengan baik. Paling tidak mereka sangat memahami arti  disiplin dan menularkan kepada sang anak. Sifat apoteker yang lain seperti jujur, penuh integritas, penuh semangat dan apa adanya membuat mereka sangat sadar pentingnya pendidikan kepada anak. Lingkungan pendidikan apoteker itu juga tidak sempat buat over gaya dan selfie, kebanyakan gaya maka sudah pasti akan ketinggalan jumlah hapalan yang berjubel.
  7. Pendidikan apoteker yang dibebani banyak tugas dan kuliah melatih mereka memiliki manajemen waktu yang baik. Pagi kuliah, sore praktikum malam kerja laporan,..kapan belajar ? ya semuanya dilakukan semepet-mepetnya, ada kesempatan ya belajar, di bis, di mobil, di meja makan, bahkan sampai bawa catatan ke dalam kamar mandi. Semuanya membuat Apoteker itu sangat ketat menghargai waktu.

Ya udah itu dulu ya, semoga bermanfaat buat kamu, selamat menempuh hidup baru Mblo, dan buat kamu yang udah pada nikahin apoteker, tetep semangat cari duit dan…. amal ya hehe. Salam Farmasis.

#BernadiMalik

408 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

5 comments

  1. Hahahaha…mantap kak Bernadi Malik…Menyuarakan kami yg jarang bersuara….Maju dalam pelayanan kemanusiaan Apoteker Indonesia….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link