Boraks dan Jajanan di Sekitar Kita -
Home / KESGA / Boraks dan Jajanan di Sekitar Kita
Boraks dan Makanan di Sektitar Kita

Boraks dan Jajanan di Sekitar Kita

Ini sebenarnya rahasia ya, jika anda ingin jualan bakso enak, anda tipe Macchiavelian, nekat tabrak aturan ? gampang…syaratnya anda tambahkan boraks di dagingnya, tapi siap-siap anda bakal ditangkap polisi! Boraks yang  ditambahkan ke bakso itu akan mengikat protein, akan memberi rasa kenyal, sebagai pengempuk, pengawet dan penambah rasa getir/gurih di lidah. Hebat kan ? senyawa ini memang amazing, celakanya masyarakat sering salah kaprah. Pedagang kerupuk jengkol yang ditangkap polisi di salah satu televisi berkata : “Saya nggak pernah pake boraks buat bikin kerupuk, bertahun-tahun saya  hanya pake garam bleng kok, “ masalahnya bleng itu ya boraks. Semua yang pernah menggunakan bleng, mungkin juga merasa tidak berdosa kalau bleng itu sama dengan boraks. Tapi sosialisasi itu sudah banyak dilakukan kok oleh Badan POM, Dinas Kesehatan dan Kampus. Parahnya kalau sudah tau tapi masih tetap nekat pake boraks.

Boraks, (nama dagangnya : pijer, bleng, boraks, air ki)  bentuknya bisa balok padat, kristal, tepung hablur (kristal) berwarna kuning atau serbuk berwarna coklat. Atau cairan tidak berwarna. Digunakan untuk bahan pembuat deterjen, mengurangi kesadahan air, pembuatan gelas/enamel, pengawet dan antijamur kayu, obat untuk kulit dalam bentuk salep, pembasmi kecoa, campuran pembersih dan antiseptik. Boraks digunakan untuk  bahan  solder, pembersih bangunan dan pupuk.

Boraks berbentuk kristal putih tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat (NaB4O710H20) jika larut dalam air akan menjadi hodroksida dan asam borat (H3BO3).Boraks ditambah di produk makanan untuk menambah tekstur kenyal seperti bakso,mie basah,  lontong dan  atau  kerupuk. Selain efeknya juga mengawetkan, dan menambah rasa getir di lidah. Kadang bisa salah kaprah kalau rasa getir itu adalah gurih.

Sebenarnya kita bisa membagi empat masalah kenapa boraks ini masih juga disalahgunakan di masyarakat  :

  1. Dari segi produsen, Proses buat  bakso itu perlu puluhan kali sampai ditemukan resep yang paling bagus, 70 kali ? mungkin lebih untuk riset bakso. Variabelnya cukup banyak : Jenis daging yang dipilih, hewannya ayam dicampur sapi perbandingan berapa ? terigunya merek apa, kanji dosis dan merek apa, bawangnya berapa persen, waktu penggilingan, es batu yang ditambahkan. Masih banyak faktor seperti mesin apa yang digunakan, cara mencampur. Nah pedagang yang tidak punya pengetahuan menggunakan jalan pintas.mencampur dengan boraks.
  2. Penggilingan Mesin Bakso, mereka punya mesin giling daging, biasanya di pasar dan punya kompetitor. Mereka ini yang menjual boraks, dibungkus plastik kecil-kecil, isinya entahlah! Bisa pengawet, penyedap rasa, soda kue dll, masalahnya mereka nggak menulis indikasi apa yang ada di kemasan tersebut.  Karena semakin laris bakso para pedagang pemilik mesin penggilingan bakso ini menjadi tambah laris,dan ikatan antara mereka dijalin dengan serbuk misterius yang “bisa bikin bakso enak itu.”
  3. Dari segi konsumen/pembeli, tidak semuanya tahu dan mau tahu. Misalkan : bakso yang terlalu putih itu sebenarnya nggak baik karena terindikasi pake boraks atau bahkan pake pemutih. Membaca informasi tentang boraks, ciri-ciri tentang produk yang mengandung boraks dan penyalahgunaannya juga tidak pernah kok mau memilih produk. Kadang asalkan ada bakso laris saja semua pembeli langsung menyerbu, padahal ada tanda tanya besar kenapa sih kok baksonya laris, rasanya enak. Atau ada bakso murah kadang langsung aja diserbu padahal harga daging itu mahal loh untuk produksi bakso.
  4. Dari segi regulator, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan dan Dinas Koperasi dan Perdagangan. Tentu sudah melakukan tugasnya meski masalah mereka klasik biasanya dana, sulit koordinasi dan sdm (alasan yang sulit dipahami oleh generasi  milenial ya he3x). Toh meski peranan institusi pemerintah ini  agresif  memberi pelatihan, informasi kepada masyarakat di seluruh Indonesia tetap tidak ada gunanya jika masyarakat yang jumlahnya lebih banyak dari aparat tidak bergerak dan membantu

BPOM dan Dinkes sudah diatur oleh Undang-undang melaksanakan perlindungan kepada masyarakat  melalui aturan berikut ini :

  1. Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
  2. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
  3. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun1999 tentang Label dan Iklan Pangan
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan
  6. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 23/Menkes/SK/I/1978 tentang Cara Produksi yang Baik untuk Makanan.
  7. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 329/Menkes/Per/XII/1976 tentang Produksi dan Peredaran Makanan.
  8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan.
  9. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.

Jadi solusinya Apa ?

Produsen, penggilingan bakso perlu mendapatkan informasi bahwa ada zat lain yang berguna sebagai pengganti boraks. BPOM dan Dinkes sudah memberi informasi dengan pemakaian Sodium Tri Polifosfat untuk pengganti boraks, sayang mungkin belum banyak yang tahu. Atau jalur penjualannya belum seluas boraks dan mereka kadang tidak peduli dengan informasi ini, yang mereka cari kadang keuntungan saja.

Konsumen perlu belajar dan sadar bahaya boraks, khususnya bakso misalkan Apa saja Ciri-ciri Bakso yang mengandung boraks ? antara lain : Teksturnya sangat kenyal, warnanya tidak kecoklatan seperti daging sapi namun lebih cenderung  putih. Penting juga mendidik anak-anak kita untuk sejak dini memahami perlunya membeli jajanan sehat di sekolah.

Perlu juga dipahami kalau bisa disosialisasikan bahaya pemakaian Boraks.

Apa bahaya Boraks  jika dikonsumsi ?  Nah utuk pemakaian Sedikit Boraks menyebabkan : Mual, muntah, diare, kejang perut, bercak pada kulit, kerusakan ginjal,Boraks tidak dicerna ditimbun di hati, otak dan ginjal.  Pemakaian dalam jumlah banyak: bisa menyebabkan demam, depresi, merangsang Susunan Syaraf Pusat, bahkan sampai koma dan kematian. Pada jangka panjang boraks akan menyebabkan kerusakan ginjal dan kegagalan sirkulasi hingga penyebab kematian.

Penting buat kita semua untuk mau belajar dan membagikan pengetahuan tentang Boraks, memahami dan mempelajari tentang boraks, dan kondisi sekitar kita bahwa ada bahan makanan yang tercemar zat berbahaya yang bisa menyebabkan penyakit. Apalagi jika itu menyangkut jajanan anak sekolah kita. Sebaiknya sejak dini disampaikan ke anak-anak kita untuk selalu hati-hati membeli jajanan. Produsen yang masih pakai boraks, bisa datang ke BPOM atau Dinkes dan konsultasi masalah bahan tambahan pangan pengganti boraks, biasanya bapak dan ibu disana bisa menjelaskan bagaimana alternatif pengganti boraks yaitu Sodium Tri Poly Phospat berapa dosis, cara pakai dan dimana membelinya.

Baca Selanjutnya :
Tanya Jawab Apa Itu  Boraks ? 
Tanya Jawab Apa Itu Formalin ?

 

838 total views, 3 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link