Apotek Ganja Farma -
Home / NGOCEH / Apotek Ganja Farma

Apotek Ganja Farma

Itu nama apotek saya jika ganja dilegalkan di Indonesia. Eksotis, menarik dan ada unsur mistik. Promosinya berbunyi ; silahkan pembeli yang mau beli obat atau teler, Apotek Ganja Al-Farma buka dua puluh empat jam, menjual obat-obatan dan “ganja medis”, terletak di pusat 14 kota besar di Indonesia,. Melayani konsultasi lewat whatsapp, bisa diantar atau di jemput. Mimpi ? bukan juga kok, tidak buat teman-teman di Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang memiliki cita-cita luhur. Mereka ingin melegalisasi peredaran ganja di Indonesia. Di websitenya mereka punya visi : Menjadikan pohon ganja sebagai salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya bagi kehidupan masyarakat indonesia dan umat manusia umumnya.Untuk jadi member Rp.250.000 dapat kartu anggota dan paket selamat datang dari LGN (*Isinya mungkin bukan ganja). Keuntungannya : anda bisa konsultasi skripsi, tesis, terapi ganja medis, advokasi kasus masalah ganja, harga khusus merchandise LGN Shop dan kegiatan LGN, dan mendapat laporan berkala kegiatan dan keuangan mereka. Itu yang tertera di lgn.or.id.

Memang ganja sangat menarik dan menjual, bandingkan dengan : seandainya saya buat sebuah gerakan yang namanya Lingkar Daun Singkong Nasional (LDSN), catatan : daun singkong memiliki kandungan vitamin-P atau rutin yang memperkuat pembuluh darah dan ekstraknya bisa untuk tabir surya. Lantas siapa yang mau mendukung saya ? Mungkin hanya sedikit sorotan media. Dulu saya sudah di debat oleh salah satu Profesor di UB bahwa ekstrak daun singkong yang digunakan untuk tabir surya/=sunscreen, bisa merusak keseimbangan harga daun singkong rebus di Restoran Padang.  Memang singkong tidak eksotis, menarik dan punya unsur mistik.

Bandingkan dengan caviar, singkong identik dengan tiwul, ubi kayu makanan orang miskin ketika zaman perang, yang melekat sampai sekarang itu nggak keren, meninggalkan kenangan buruk zaman kemiskinan, kolonialisme padahal singkong masih merupakan salah satu sumber karbohidrat juga. Daun Singkong rebus harganya murah, banyak di jumpai di restoran padang sederhana yang sekarang mewah, dijual di pasar tradisional dan dimasak, ditanam di sembarang tempat. Mudah tumbuh dan dibudidayakan di seluruh penjuru Indonesia.

Tapi ganja (bhang : India) Istilah Hashis, yang maksudnya adalah getah dari bunga Cannabis Indica;  dari segi sejarah, Ganja atau Hashis mengenalkan satu sekte islam yaitu Kaum Hasyasin, Nizariah, pendukung Dinasti Fatimiyah. Kelompok yang dipimpin oleh Hassan-Al-Sabah. Disampaikan Silvestre De Sacy di Perancis yang menceritakan Marcopolo dan hubungan antara ganja dan sekte ini–Hasyassin adalah asal kata dari asassin yang artinya teror, mengerikan—yang setelah menghisap Hashis saat ekstase dan euforia, kelompok ini membunuh hingga di sebutlah nama kelompok Hashashin yang oleh lidah “barat” dikenal dengan assassin. Mereka Hasyisyiah, tak punya pasukan tempur tapi memiliki Fedayeen : pasukan bawah tanah, yang bergerak di bawah tanah untuk tujuan politik dengan teror. Dengan cara meletakkan belati di samping ranjang sebagai tanda ancaman, mengirim makan/minuman berisi racun, atau mengutus orang untuk menyamar sekaligus membunuh.

Kaum Hassyasin sudah berada di kawasan Suriah sejak tahun 1130-an, total menguasai delapan benteng, salah satunya adalah Kastil Masyaf—disana benteng pemimpin Hassyasyin, namanya Sinan—yang dibangun diatas puncak benteng berbatu. Sebuah bangunan berbentung oval sepanjang 170 meter, Di dalamnya dapat menampung 400.000 liter cukup untuk menyuplai 1.000 orang selama enam bulan.

Meskipun lebih banyak yang menentang bahwa kelompok Hassyisyiah / =Hassyasyin yang menggunakan ganja, untuk ekstase, tapi kisah ini terlanjur melegenda, seperti yang di sebutkan diatas eksotis. Padahal julukan Hassyasin ini lebih kepada ejekan, kaum pengguna candu untuk membunuh. Pada hakikatnya dalam islam haram menggunakan minuman keras, juga candu.Ini menunjukkan sejarah dan sejarawan kadang berlebih-lebihan dalam menilai sekte/thariqat dalam islam/= mengalami distorsi. Contoh : ketika Marcopolo datang, ternyata benteng alamut sudah lama di hancurkan oleh bangsa Mongol. Belum lagi definisi,sufi oleh penulis barat yang lebih cenderung ke orang miskin.

Pada abad pertama saat itu Khalifah melarang peredaran alkohol, anggur di jazirah Arab dan Afrika Utara, tapi tidak canabis. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa canabis di temukan di banyak tempat.Secara umun para sufi besar seperti Abu Yazid al-Bisthami dan Al-Ghazali yang menolak penggunaan hashis. Empat Imam Mahzab Maliki, Syafii dan Hambali juga mengharamkan penggunaan Hashis kecuali Mazhab Hanafi yang mengijinkan sedikit tertentu untuk medis. tapi efek peredaran cannabis yang longgar ini menyebabkan penggunaan Hashis meluas dari India hingga ke Maroko.

Kini Cannabis Indica, Meskipun penggunaannya dibatasi oleh peraturan PBB dan perundang-undangan. Namun penelitian menggunakan zat ini masih dimungkinkan. Di Amerika Serikat meski FDA tidak setuju tapi ganja medis, atau medical marijuana legal digunakan di sebagai obat di 24 negara bagian di Amerika. Ganja medis : adalah tanaman atau bahan ektrak yang berasal tanaman Canabis Indica, yang digunakan untuk pengobatan. Sama yang digunakan untuk fly.

FDA memang belum menemukan studi klinis ganja untuk menganalisa apakah keuntungan dan risiko penggunakan Ganja. Saat ini hanya ada dua jenis zat yang disetujui FDA yaitu pil mengandung dronabinol atau nabilone, untuk mengobati mual dan meningkatkan nafsu makan. Zat yang terkandung dalam dalam ganja adalah cannabinoids, salah satunya Tetra Hydro Cannabinol (THC), ganja mengandung 100 lebih canabinoids.Saat ini ada dua zat yang dipakai THC dan Canabidiol (CBD) : fungsi THC adalah menaikkan nafsu makan, mengurangi mual, mengurangi nyeri dan inflamasi dan gangguan gerakan otot seperti parkinson.

Tidak seperti THC, CBD tidak membuat orang teler, berfungsi mengurangi nyeri, inflamasi, epilepsi, gangguan mental dan kecanduan. Studi menunjukkan pada penggunaan pada tikus, dapat membunuh sel kanker dan mengurangi ukurannya. Para ilmuwan kini meneliti CBD untuk HIV, Multiple Sclerosis, Inflamasi, nyeri, seizures, epilepsi dan gangguan mental.

Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah kemoterapi kanker, dan kanker itu yang harus dicari obatnya.—itu tugas farmasis.Contoh Penyakit TB saja hingga kini belum ada perkembangan obat signifikan padahal sudah nyaris 70 tahun. Ilustrasinya kita jangan mencari obat penekan batuk mutakhir, tapi carilah obat untuk membunuh kuman TB.

Toh melegalkan ganja untuk medis sama saja anda membuat “Arak Medis”; padahal yang punya efek kan alkoholnya saja. Demikian jika yang dilegalkan adalah ganja, tentu salah karena 100 kandungan cannabinoid harus dipisah. Zat yang merugikan harus dipisahkan. Lalu di teliti zat yang bermanfaat agar bisa dibuat dalam skala besar.Seperti yang ditunjukkan FDA tablet yang mengandung dronabilol atau nabilone legalkan zat yang memiliki aktifitas saja. Karena jika yang di legalkan ganjanya maka bisa saja disalahgunakan.

Terlepas dari kasus Fidelis saat lelaki berusia 6 tahun itu berdalih menanam ganja untuk pengobatan istrinya yang mengidap sphingomyelia atau kisa di sumsum tulang. Tapi dalih itu tidak mempan di mata hakim, ia di vonis delapan bulan penjara.Momentum ini bukan untuk melegalkan ganja di Indonesia, tapi momen ini sebaiknya untuk meningkatkan penggunaan obat tradisional di Indonesia. Tapi ya itu tadi memang membicarakan daun singkong, tentu tidak menarik bagi rekan-rekan wartawan, media yang mencari pembaca untuk meledakkan tajuk utama.

Tidak seperti Singkong, Ganja memang eksotis, menarik dan mistik.

 287 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link