Ambisi Lion -
Home / NGOCEH / Ambisi Lion
Ambisi Lion

Ambisi Lion

Naik Airbus A330-200 dari Bandara Sydney Kingsford, di Australia menuju Jakarta. Maskapai plat merah Indonesia, tiketnya mahal, pramugarinya ramah membantu menunjukkan tempat duduk,  kabin pesawat sejuk, sayup-sayup terdengar suara di pengeras suara, Ada suara “Bismillahirohmanirrahim,” Lalu suara itu melanjutkan  “Selamat siang bapak dan ibu yang terhormat. Kapten anda berbicara, selamat datang di maskapai kami, “ Dia menjelaskan detil penerbangan. “Pesawat  ini akan terbang selama sepuluh jam,ketinggian 40 ribu kaki,  ada goncangan kecil, dan perkiraan cuaca di Jakarta, alhamdulillah dilaporkan cerah. Terimakasih atas pilihan anda terbang bersama kami. Selamat terbang.

Itu bukan di atas kabin Lion Air, low Cost Carrier, maskapai biaya-rendah, yang menguasai 60 % langit Indonesia menjadi berita utama tentang pesawatnya yang jatuh: 29 Oktober 2018 Boeing 737 MAX 8, yang berumur 2 bulan, registrasi PK-LQP, penerbangan JT610 Jakarta-Pangkalpinang jatuh di lautan Tanjung Karawang ada 189 penumpang dalam pesawat tersebut. ke-30 kali kecelakaan yang menimpa perusahaan penerbangan yang didirikan oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden : Rusdi Kirana, duta besar untuk Malaysia. Wawancara majalah Angkasa tahun 2013 dia berkata “Saya membuat di Indonesia orang bisa bepergian dengan murah, kalau dianggap saya tak punya nurani, dari mana mereka bisa bepergian sekarang dari Kota A ke Kota B, tujuan apa pun dengan harga tiket terjangkau?”

Lepas dari kontroversi, Lion memang fenomenal : di Indonesia awalnya terbang itu mahal, mewah dan hanya milik kaum borjuis. Sementara rakyat jelata hanya bisa naik kapal laut dan bis. Hal itu yang ditangkap oleh Rusdi Kirana sebagai  peluang dan pangsa pasar. Lion adalah solusinya : tiket pesawat murah,  tak ada pelayanan plus untuk jarak dekat di Indonesia. Senyum pramugari, makan, minum semuanya diminimalisir, bahkan kalau perlu dijual. Mau enak ? ya bayar lebih! itu materi kuliah Lion Air, sosialisasi mereka mereka menciptakan lapangan kerja dan meraup untung, menghubungkan keluarga, pekerjaan dan bisnis antar pulau di Indonesia. Jaringan penerbangannya menggurita ke airport kelas 2 lewat penerbangan rutin dan murah melalui pesawat ATR72-600 milik Wings Air, anak perusahaan Lion Air nyaris membuat penumpang tak punya pilihan lain. Kata Rusdi, kita memang tak punya pilihan.

Lawannya ada Air Asia yang dipimpin Tony Fernandez, juga menggurita di Asia Tenggara, dibeli murah, maskapai asal Malaysia ini berkembang hingga masuk ke India, China, di Indonesia sepertinya dia tak pernah salah, sampai akhirnya pesawat QZ8501 Surabaya-Singapura meledak di langit laut Jawa. Saat Indonesia kembali jadi berita dan pesawatnya jatuh, Tony terbang ke Surabaya, dia bertemu dengan seluruh keluarga korban dan menjawab satu persatu pertanyaan wartawan. Dia memang terbuka dan mungkin suka publikasi. Sementara Kirana mantan sales mesin tik ini, lebih tertutup dan misterius, dia hanya mengucapkan bela sungkawa kepada korban.

Namun itu tak menutup rivalitas mereka, Tony Fernandez berkata “Kita akan menjadi kompetitif, saya akan menjadi mimpi buruk bagi Lion Air di Indonesia.  Sementara Rusdi Kirana berkata “Tony selalu mengira ia penyedia layanan penerbangan murah terbesar, tapi saya katakan itu tidak benar. Ketika mereka menangguhkan pembelian pesawat. Kami malah membeli banyak.” Sepertinya itu genderang perang. Malindo Air, masuk ke Malaysia, perang harga berlanjut dan persaingan kedua maskapai ini semakin intens.  Tapi pertumbuhan pilot tidak sebanding, bandara, bahkan mungkin tempat parkir dan perawatan tidak cukup. Produsen Boeing berkata 20 tahun kedepan dibutuhkan 200.000 pilot di Asia-Pasifik. Ini dipimpin oleh pembelian pesawat oleh maskapai biaya-rendah seperti Air Asia, Lion Air hingga jumlah pesawat semakin banyak di kawasan ini.

Sepertinya, langit Asia Tenggara adalah ajang persaingan ambisius yang dulu diperebutkan Raja-raja di Pulau Jawa. Data antara tahun 2009 sampai 2014 penumpang pesawat di Indonesia memang meningkat dari 27.421.235 juta menjadi 94.504.086. Langit indonesia jadi padat, jumlah pesawat bertambah, tapi prestasi itu dihantui masa lalu saat tahun 2007-2016 Amerika dan Uni Eropa melarang semua penerbangan Indonesia di langitnya. 9 Juli Tahun 2016, investigasi Al-Jazeera 101 East, berjudul “How Safe are Asia’s Airlines” mengungkap fakta mengejutkan. Salah satunya ditemukan calon pilot asal Indonesia yang gagal dalam ujian simulator di Australia, konon setelah pulang ke Indonesia mereka justru diluluskan. Marsekal Purn.Chappy Hakim menjelaskan itu disebabkan karena gaji pegawai Departemen Perhubungan yang kecil dan kemungkinan adanya suap di institusi tersebut. Dalam investigasi itu terkuak juga seorang pilot senior asing yang menolak terbang dengan semua maskapai di Indonesia, kecuali kepepet!

Lion Air tetap terbang, bahkan sejak Boeing 737 MAX 8 tersebut dinyatakan hilang, pemerintah tidak tertarik untuk mendaratkan seluruh pesawat 737 MAX 8  : 1 milik Garuda Indonesia  dan 10 Lion Air. Bandingkan dengan pemerintah Australia mungkin lebih peduli kepada nyawa warganya, mereka membuat pernyataan agar “pejabat pemerintah dan kontraktor Australia tidak terbang menggunakan maskapai Lion Air sampai ada data investigasi JT610.” Di Indonesia Kemenhub memberi perintah “pemeriksaan menyeluruh” lalu laporan terakhir menemukan tak ada masalah, padahal penyelidikan KNKT belum selesai, rasanya itu kurang cocok menyikapi gawai pesawat baru. Kemenhub dapat tegas, mengingat sudah dua kali pada tahun 2018 Lion mengalami kecelakaan, silahkan hentikan 10 pesawat Boeing 737 MAX 8 yang masih terbang, parkir dan karantina pesawat tersebut di Apron Bandara Halim Perdana Kusuma, berikan pengamanan maksimal, tak boleh ada yang menyentuh sampai penyelidikan KNKT selesai selesai. Sekali lagi,…itu tidak harus.

Tapi tekanan mungkin sudah terasa hingga Kementerian Perhubungan mencopot Direktur Teknik Lion Air – Muhammad Asif. Padahal Direktur itu “mungkin” hanya puncak gunung es saja, seperti hipertensi. Masih banyak hal yang kini sudah terlampau kronis setelah 30 kali insiden, mencopot Direktur Teknik seperti memberi tablet Captopril atau Amlodipine tanpa memeriksa secara menyeluruh apa organ yang terganggu, tekanan darah memang turun tapi masalah pokoknya mengambang. Apakah alergi, ginjal, paru, jantung, lambung, syaraf, endokrin, pankreas, kadar asam urat, kadar kolesterol total, LDL, HDL ?

Kenyataannya masih ada budaya kerja di lingkungan Lion air, terlambat/delay yang banyak mendapat sorotan. Tak bisa ditutupi ada juga faktor infrastruktur dan sumber daya manusia yang masih belum seimbang dengaan kebutuhan yang meningkat tajam. Ada riwayat Rusdi Kirana yang mengatakan  “Airlines saya adalah terburuk di dunia, tapi anda tidak punya pilihan.” Ada Edward Sirait yang menanggapi bahwa pesawat memang sebelumnya punya kendala saat terbang dari Denpasar ke Jakarta “malam itu langsung dilakukan pemeriksaan dan langsung dilakukan perbaikan sesuai dengan petunjuk pabrik pesawat.” Investigasi belum selesai. Ada gaji Pilot Asing Lion Air Rp.3,7 Juta yang dilaporkan ke BPJS kelak dibantah menjadi US$ 9000. Ditemukan penumpang yang namanya tidak ada di manifes pesawat.

Seharusnya, Lion Air bercermin, refleksi 30 kali insiden sangat menyesakkan. Ambisi Rusdi Kirana, visi Edward Sirait dan  misi orang-orang orang hebat dibalik Lion Air memang membesarkan nama bangsa, bercita-cita luhur, membangun ekonomi, menjembatani negara kepulauan Bhinneka Tunggal Ika tapi, maaf,  berapa korban yang telah jatuh ? membantu bangsa ini ? ingat, ketika AS membantu rakyat Irak menggulingkan tiran Saddam Hussein tahun 2004 : mereka menyerang Fallujah, kota Masjid yang ikonik di Irak, dikenal dengan 9/11 Arab : ratusan warga sipil tewas dan 200.000 warga kehilangan tempat tinggal. Tahun berikutnya 24.000 warga sipil tewas dan 70.000 terluka, Alih-alih membawa perdamaian ke wilayah tersebut, pendudukan AS justru menginspirasi pemberontakan warga Irak dan mujahidin dari Arab Saudi, Suriah dan Yordania.

Dulu, Jean Jacques Rosseau juga membantu ide “agama sipil”, di Revolusi Perancis yang berdasar pada keyakinan pada Tuhan dan akhirat, kontrak sosial dan larangan intoleransi. Perayaannya akan menciptakan ikatan sakral antara sesama partisipan. Katanya “Biarkan penonton menjadi hiburan untuk diri mereka sendiri, menjadi aktor sendiri sehingga setiap orang melihat dan mencintai dirinya sendiri dalam orang lain sehingga semua menyatu dengan baik.” Tapi ide kasih sayang Rosseau tidak meluas ke orang-orang. Sebulan setelah perayaan persatuan dan ketakterpisahan republik, rangkaian teror dimulai ketika Maximilien de Robespierre menunjuk pengadilan untuk mencari pengkhianat.  Raja dan Ratu Perancis, anggota keluarga, bangsawan dieksekusi. Celakanya, juga ahli kimia Antoine Lavoisier yang yang telah bekerja sepanjang hidup profesionalnya membantu kondisi di penjara Prancis dan Rumah Sakit : mewakili kaum aristokrat kepalanya dipenggal di Guillotine. Pembersihan revolusi Perancis oleh Ide Rosseau berakhir, sekitar 17.000 pria, wanita dan anak-anak telah dipenggal dan dua kali lebih banyak tewas di penjara karena wabah atau dibantai preman lokal.

Membantu bangsa ini, “berkat Lion kita bisa bepergian…..” kata Rusdi Kirana. Semboyan perusahaannya We Make People Fly tapi 30 Insiden terjadi, korban telah berjatuhan. Seperti bantuan serdadu Amerika di Irak, Ide tentang Revolusi Perancis, semua niat baik itu makan korban. Lion tak goyah, seperti ikon singa menjaga pundi-pundi harta. Langit kita tetap  terbang pesawat bercat putih,  Lion Air, maskapai biaya-murah, no service, kadang terlambat-kadang tepat waktu, pramugarinya cantik, sayang kadang kurang ramah, makan/minumnya dijual diatas kabin. Tanggal 29 oktober 2018, Air mata ibu pertiwi menetes, sedih ketika bangsa ini harus mati bukan melawan kolonialisme atau neokolonialisme, tapi bisa jadi karena  visi dan ambisi untuk menguasai langit Asia Tenggara.

 

Sumber, Artikel Opini Terkait :
1. Cantik 
2. Ambisi Lion Air 
3. Hoaks Saudi-Kashoggi
4.  Waktu untuk Khabib
5. 350 Kilogram 
6. Popper Itu Obat Bukan Sih ? 
7. Aneh Tapi Nyata di Apotek 
8. Masa Depan Telemedisina Pada Sistem Kesehatan Nasional
9. First Travel Setitik Rusak Travel Sebelanga
10.Pesan Apoteker Zaman Now
11.Sarden Untuk Happy
12.Merisak Apoteker 
13.Apotek Ganja Farma

 

 

 272 total views,  2 views today

About Bernadi SSi.Apt

Penulis,blogger-novelis, pengedar obat bergelar apoteker, pekerja sosial yang humanis, penikmat sastra dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link